Archive for Agustus, 2010


Kesimpulan dan penutup
Kesimpulan
Dari apa yang kami sampaikan diatas, dapat kita simpulkan beberapa hal berikut:
Puasa adalah suatu hal yang disyari’atkan oleh yang Maha Tahu atas hambaNya. Maka pasti akan membawa manfaat yang besar bila dilaksanakan sesuai dengan apa yang disyari’atkan.
Aturan dalam berpuasa merupakan kunci dalam mendapatkan kemanfaatan dari puasa tersebut, terutama dalam masalah kesehatan. Namun yang perlu diperhatikan bahwa puasa yang kita jalani jangan dengan tujuan ingin sehat, namun harus ikhlas karena ingin melaksanakan syari’at Alloh.
Aturan yang membawa kemanfaatan tersebut meliputi; siapa yang harus berpuasa, kapan kita sebaiknya puasa, berapa lama dilakukan, bagaimana kita sahur dan berbuka yang meliputi menu, jumlah makanan dan minuman, serta tahapam makan minum sepanjang malam.
semua cara yang menyelisihi syari’at, pasti akan membawa madhorot. Hal ini juga meliputi hal-hal diatas.
Orangnya. Maka bila belum baligh dipaksa untuk puasa sebagaimana orang dewasa, hal ini akan menggangu kesehatan fisik maupun mental sang anak. Demikian pula pada orang yang sakit yang tidak mampu utk puasa. Dll
Waktu puasa. Tidak boleh puasa terus menerus, seperti setiap hari puasa terus sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Lama puasa. Tidak boleh puasa lebih dari 18 jam. Seperti puasa beberapa hari tapi tanpa makan sama sekali (puasa wishol/ngebleng).
Menu/jenis makanan untuk puasa. Tidak baik puasa mutih, hanya makan nasi aja tanpa daging, susu dll.
dll
Perlu untuk mengetahui aturan syari’at yang benar, yangmana dengan hal tersebut kita mendapatkan keuntungan ganda, yaitu pahala di akherat kelak dan manfaat di dunia berupa kesehatan baik fisik maupun mental

Penutup
Demikian apa yang dapat kami sampaikan, semoga yang sedikit ini mampu memberi manfaat bagi kami baik di dunia maupun di akherat kelak.
Bagi sejawat yang ingin mengoreksi atau menambahi, dipersilahkan.
Mengenai referensi, insyaAlloh akan kami sertakan diakhir tulisan jika telah lengkap.

Puasa yang tidak sehat

Secara ringkas puasa yang tidak sehat adalah puasa yang tidak memakai aturan, baik aturan agama maupu medis. Berikut kami jelaskan secara ringkas. Semoga yang ringkas ini mencukupi.

Siapa yang tidak baik untuk berpuasa?
Puasa tidak dianjurkan bagi:
penderita kanker stadium lanjut,
lemah mental,
kurang gizi,
hamil dan menyusui,
berat badan kurang,
tukak lambung,
balita,
manula,
diabetes kronis,
pra dan paska operasi besar,
lemah jantung,
gagal ginjal,
sakit jantung,
tuberculosis.
Waktu yang tidak tepat untuk berpuasa
Apabila kita melihat rambu-rambu yang telah dibahas, mengenai waktu ini ada beberpa point yang harus diperhatikan:
Dalam setahun paling bagus adalah puasa selama 1 bulan dan maksimal 40 hari
Dalam sehari puasa yang ideal adalah 12-18 jam
Pemilihan puasa yang baik adalah siang hari
Lebih baik lagi bila puasa diklakukan secara regular, semisal dalam sebulan 3 hari atau 1 minggu 2 kali (senin-kamis), dll.

Maka selain waktu diatas adalah waktu yang tidak tepat untuk berpuasa.

Menu yang tidak tepat untuk berpuasa
Mengenai menu yang tidak tepat adalah:
Makanan dan minuman yang serampangan
Cara makan yang seperti orang balas dendam
Makanan tidak bergizi (semacam orang mutih, mencari kesaktian, dll)
dll

Sesuatu yang disyari’atkan pasti membawa manfaat, maka puasa pada dasarnya akan menyehatkan. Lalu siapakah yang boleh atau bahkan wajib untuk berpuasa:
Dari tinjauan syari’at, yang wajib puasa adalah:
Orang yang sudah mencapai usia baligh (sudah dewasa).
Orang yang berakal atau tidak hilang ingatan
Orang yang mukim (atau tidak sedang bepergian)
Orang yang sehat (atau tidak sedang dalam kondisi sakit yang perlu perawatan untuk memulihkan kesehatannya).
Orang yang mampu untuk berpuasa (atau tidak kepayahan bila melakukan puasa seperti orang yang sudah sangat tua, ibu hamil atau menyusui). Walaupun ada perbedaan pendapat diantara ulama di dalam masalah ini. Walloohua’lam.

Dari tinjauan medis, yang baik untuk melaksanakan puasa adalah
Orang yang sehat
penderita Jantung Koroner
Penderita Diabetes
Penderita Gangguan lambung
Orang yang perlu diet
Orang yang sakit jiwa
Selanjutnya akan kita bahas satu persatu dalam tinjauan medis:

Orang yang sehat
Orang yang sehat sangat perlu untuk puasa, karena dengan puasa maka kerja organ-organ tubuh akan berkurang atau dalam bahasa lain organ tubuh kita dapat istirahat beberapa saat. Berikut akan kami paparkan manfaat pusa bagi kesehatan:
Tanpa berpuasa seseorang akan menderita penyakit
Para ilmuwan hari ini menganggap puasa sebagai fenomena yang vital dan fitri, dimana kehidupan yang sempurna dan kesehatan yang baik tidak bisa diperoleh tanpanya. Apabila seseorang atau bahkan seekor binatang tidak berpuasa, maka ia akan terjangkit berbagai macam penyakit. McFadon, seorang ahli kesehatan Amerika, mengatakan, “Setiap orang perlu puasa, karena kalau tidak maka ia akan sakit. Karena racun makanan berkumpul dalam tubuh dan membuatnya seperti orang sakit, memberatkan tubuhnya, dan mengurangi vitalitasnya. Apabila ia berpuasa, maka berat badannya menurun, dan racun-racun ini terurai dari tubuhnya dan keluar, sehingga tubuhnya menjadi bersih secara sempurna, lalu bobot tubuhnya akan kembali naik, dan sel-selnya kembali baru dalam waktu tidak lebih dari 20 hari setelah berhenti puasa. Pada saat itu ia merasakan vitalitas dan kekuatan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.”
Puasa untuk detoksifikasi
Di masa kini, dunia penyembuhan Barat telah menggunakan terapi puasa sebagai alternatif penyembuhan. Puasa diyakini sebagai mata rantai yang hilang dari pola makan orang Barat selama ini.
Puasa sering disalahkaprahkan sebagai upaya manusia menahan lapar pada waktu tertentu. Puasa ditinjau dari aspek kesehatan adalah sebuah upaya detoksifikasi(proses pengeluaran zat-zat yang memiliki sifat toksin atau racun dari dalam tubuh). Dengan demikian puasa mendorong manusia  untuk menjadi lebih sehat. Bukan hanya fisik saja tapi juga batin.
Mengurangi risiko terkena penyakit diabetes tipe-2
pada saat berpuasa, dengan sendirinya konsumsi kalori secara fisiologis akan berkurang. Hal ini akan mengurangi sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Lebih jauh, hal ini akan meningkatkan sensitivitas hormon insulin dalam menormalkan kadar gula darah. Pengontrolan gula darah yang baik akan mencegah penyakit diabetes tipe-2.
Meningkatkan daya tahan tubuh
Manfaat puasa yang juga dapat dibuktikan secara alamiah adalah peremajaan kembali dan perpanjangan harapan hidup. Metabolisme yang lebih rendah, produksi protein yang lebih efisien, meningkatnya sistem kekebalan, dan bertambahnya produksi hormon berkontribusi terhadap manfaat puasa. Hormon antipenuaan juga dihasilkan dengan lebih efisien selama berpuasa.
Merilekskan tubuh dan memperbaiki syarafnya.
Menyerap zat-zat yang mengendap usus. Pengendapan dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan perubahan endapan itu menjadi kotoran yang beracun.
Memperbaiki fungsi pencernaan dan penyerapan.
Mengembalikan vitalitas organ pembuangan, dan memperbaiki fungsinya untuk membersihkan tubuh, yang mengakibatkan terkontrolnya stabilitas dalam darah dan berbagai cairan dalam tubuh.
Mengurai zat-zat yang berlebihan dan endapan-endapan di dalam jaringan yang sakit.
Mengembalikan keremajaan dan vitalitas sel-sel dan berbagai jaringan dalam tubuh.
Menguatkan indera dan meningkatkan IQ.
Memperbagus dan membersihkan Kulit. Alexis Carrel, pemenang hadiah Nobel di bidang kedokteran, dalam bukunya Man the Unknown mengatakan, “Banyaknya porsi makanan dapat melemahkan suatu fungsi organ, dan itu merupakan faktor yang besar bagi berdiamnya jenis-jenis kuman dalam tubuh. Fungsi tersebut adalah fungsi adaptasi terhadap porsi makanan yang sedikit…Gula pada jantung bergerak, dan bergerak pula lemak yang tersimpan dalam kulit. Semua organ tubuh mengeluarkan zat khususnya untuk mempertahankan keseimbangan internal dan kesehatan jantung. Puasa benar-benar membersihkan dan pengganti jaringan tubuh kita.
Dll

Penderita Jantung Koroner
Penelitian menunjukkan, puasa sangat baik dilakukan oleh orang yang kadar kolesterol di dalam darahnya tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi secara jangka panjang bisa mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Bila hal ini terjadi di otak, maka terjadilah stroke, dan bila terjadi di daerah jantung maka timbullah penyakit jantung.
Dari hasil penelitian pula diketahui, puasa bisa meningkatkan kolesterol ‘baik’ (HDL) sebanyak 25 titik, dan menurunkan lemak trigliserol sekira 20 titik. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk kolesterol ‘jahat’ (LDL).
Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Sebagian berpendapat jika penyakit ini mempunyai penyelesaian yang sebenarnya mudah, yakni dengan menjaga pola makan sehat dan teratur dalam berolahraga.
 Namun, penyakit jantung korener tidak bisa dilihat sesederhana itu.
Ada faktor resiko dari penyakit jantung koroner yang tidak bisa diubah, seperti jenis kelamin, umur dan faktor keturunan. Sementara yang bisa dikontrol atau diubah yaitu pola kebiasaan sehari-hari yaitu pola makan, kebiasaan bergerak, merokok, kondisi hipertensi, status diabetes dan kelebihan berat badan.
Ada juga faktor pencetus lainnya yaitu stress dan pengonsumsian alkohol. jika makin banyak faktor resiko yang ada, maka makin besar pula resiko terjadinya penyakit jantung koroner.
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa kesehatan yang baik bukan sekedar makanan yang baik dan olahraga, tapi lebih jauh lagi adalah bagaimana menyikapi pandangan hidup dan perilaku mental seseorang terhadap dirinya sendiri.
Dengan bulan puasa maka, segala faktor pencetus, sedikit banyaknya bisa dihindari. Mulai dari pola makan yang “semau gue” menjadi lebih teratur, intensitas merokok jauh lebih berkurang, pikiran jadi lebih tenang dan terarah, sehingga stress pun jadi lebih mudah dihindari.
Selain itu, dengan berpuasa maka dapat menjaga keseimbangan kadar kolesterol, tekanan darah, gula darah dan beberapa faktor pemicu timbulnya atau semakin buruknya penyakit jantung koroner.

Diabetes

Penyakit diabetes yang juga dikenal sebagai pencetus penyakit jantung koroner, adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia atau peningkatan kadar gula darah, yang terus menerus dan bervariasi, terutama setelah makan.  
Pembentukan diabetes yang utama adalah karena kurangnya produksi insulin, atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin. Dimana insulin yang menjadi “pintu” untuk masuknya glukosa ke dalam pankreas terkunci, sehingga mengakibatkan zat gula tertimbun di dalam darah.
Bagi para penderita diabetes, pemahaman dan perhatian sangat penting karena tingkat glukosa darah sering berubah-ubah. Karena dengan keberhasilan menjaga gula darah dalam batas yang normal dapat mencegah terjadinya komplikasi diabetes.
Faktor lain yang dapat mengurangi komplikasi diantaranya dengan berhenti merokok, mengoptimalkan kadar kolesterol, menjaga berat badan supaya tetap stabil, mengontrol tekanan darah tinggi dan melakukan olahraga secara teratur.
Hal-hal itu akan menjadi lebih mudah, saat bulan puasa tiba, dimana seorang penderita diabetes yang menjalankan puasa dapat mengontrol dirinya untuk menghindari pengonsumsian makanan sembarangan dan juga menghentikan kebiasaaan merokok, atau paling tidak dapat meminimalisir kemungkinan bersinggungan langsung dengan asap rokok.
Kendati penderita diabetes bisa dengan aman dan nyaman melaksanakan puasa, namun beberapa bulan sebelumnya (minimal 3 bulan sebelum puasa) penderita diabetes harus mengonsultasikan kepada dokter, agar sang dokter pun bisa memberikan arahan yang baik dan juga dapat memodifikasi obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh pasien dengan diabetes selama menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, melatih diri untuk berpuasa dua minggu sebelum pelaksanaan puasa juga sangat dianjurkan. Gunanya untuk menyesuaikan diri sebelum masuk ibadah puasa yang sesungguhnya, mulai dari beradaptasi dengan asupan makanan, obat-obatan dan reaksi tubuh saat puasa berlangsung.
Dengan begitu tubuh akan terlatih menghadapi puasa, jika jauh-jauh hari telah dikondisikan untuk menghadapi aktivitas puasa.
Tips bagi penderita diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasanya.
Pengonsumsian obat-obatan yang harus diminum bagi para penderita diabetes bisa dibalik, yakni obat yang biasanya diminum di pagi hari, dialihkan untuk diminum pada saat berbuka. Sedangkan untuk obat yang diminum di malam hari, dialihkan saat sahur.
saat berbuka orang dengan diabetes harus benar-benar memperhatikan asupan makanan dan minumannya.
Saat berbuka puasa pastikan penderita dan keluarga yang mendampingi memperhatikan makanan dan minuman berbuka. Sebagai menu pembuka makan buah korma dalam jumlah ganjil, namun jangan pula terlalu banyak, karena kadar gula kurma cukup tinggi. Setelah itu jangan langsung barengi dengan makanan berat. Akan lebih baik makanan berat disantap setelah sholat maghrib atau tarawih untuk memberikan kesempatan pada tubuh mengolah makanan pembuka yang sudah dimakan.
Yang wajib diwaspadai bagi penderita diabetes adalah saat di penderita mengalami hipoglikemi. suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara drastis menurun dan hal itu dibarengi dengan gejala fisik, diantranya gemetar, keringat dingin dan tubuh lemas. dimana jika hal itu terjadi maka harus sesegera mungkin diambil tindakan untuk menambah kadar glukosa. Jika terdesak bisa dengan memakan permen, yang penting makan yang manis-manis, Dengan kata lain puasa harus dibatalkan mengingat kondisi yang memang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan puasa hingga akhir berbuka nanti. karena kondisi tersebut jika terus dipaksakan hingga saatnya berbuka maka dapat berakibat fatal bagi si penderita.

Gangguan lambung
Bagi penderita gangguan lambung, momen ibadah puasa bisa dimanfaatkan untuk menjaga pola makan menjadi lebih teratur lagi dan menghindari menu-menu makanan yang tidak sehat dan juga berlebihan.
 
Dengan begitu, saluran cerna dapat terjaga dari asupan makanan yang dapat membahayakan kondisi lambung, dan bisa dijadikan pula sebagai salah satu metode detoksifikasi yang sangat bermanfaat untuk tubuh.

Kesehatan Jiwa
Dari kajian ilmiah yang selama ini dilakukan, didapat sebuah fakta menarik untuk dikaji. Puasa ternyata dapat memberikan kesehatan jiwa. Hal ini ditulis Alan Cott dalam bukunya Fasting as a Way of Life dan Fasting the Ultimate Diet.
Buku itu menyebutkan, gangguan jiwa yang parah dapat direduksi dengan berpuasa. Gangguan mental lain seperti susah tidur, rendah diri, dan cemas berlebihan dapat dikurangi dengan terapi puasa. Hal ini dibuktikannya melalui sebuah penelitian di Rumah Sakit Grace Square, New York.
Penelitian lain dilakukan Dr Nicolayev, guru besar di The Moscow Psychiatric Institute. Nicolayev membandingkan dua kelompok penderita gangguan kejiwaan dengan satu kelompok yang mendapat terapi medis, sedangkan kelompok yang lain mendapat terapi puasa yang dilakukan masing-masing selama 30 hari. Dari eksperimen itu disimpulkan bahwa pasien yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi medis dapat disembuhkan dengan terapi puasa. Selain itu, orang-orang tersebut juga tidak mengalami kekambuhan selama enam tahun kemudian.

Waktu yang tepat untuk berpuasa
Waktu disini mengandung 2 macam hal, pertama berapa lama puasa yang baik itu, baik dalam hitungan hari maupun hitungan jam dalam seharinya, yang kedua kapan waktu yang tepat untuk berpuasa, apakah siang hari atau malam hari.
Lamanya puasa yang tepat
Berapa lama berpuasa?
Alam telah mengatur sistem tubuh manusia dengan kemampuan berpuasa. Bahkan secara medis kilinik-klinik puasa terkemuka di Eropa sudah membuktikan bahwa manusia bisa bertahan sampai 40 hari hanya dengan air putih saja dan sampai 100 hari hanya dengan jus buah-buahan dan sayuran tanpa bahaya.
Berdasarkan pengalaman kilinik-klinik tersebut puasa selama 7 sampai 10 hari ternyata aman bagi siapa saja. Puasa sepanjang waktu itu ternyata aman untuk pembersihan bagian dalam , regenerasi sel, dan peremajaan tubuh, asalkan dilakukan secara teratur dan berkala. Tanpa hal ini, puasa 40 hari pun tidak ada manfaatnya bagi diri kita.
Proses puasa itu sendiri sebenarnya baru dimulai setelah hari ke 2 atau ke 3. puasa. Pada saat itu tubuh mulai mencerna sel-sel atau jaringan yang berlebihan, rusak, berpenyakit, usang, atau sudah mati.
Meskipun sudah menjalankan puasa secara agama, tidak ada salahnya menambahnya dengan puasa atau detoksifikasi secara berkala. Semakin sering berpuasa semakin baik untuk kesehatan., terutama saat tubuh dalam kondisi asidosis(kondisi dimana keasaman tubuh sudah terlalu tinggi) sehingga rentan terhadap penyakit.
Allah berfirman, “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (al-Baqarah: 185)
Prof. Nicko Lev dalam bukunya Hungry for Healthy mengatakan, “Setiap orang harus berpuasa dengan berpantang makan selama empat minggu setiap tahun, agar ia memperoleh kesehatan yang sempurna sepanjang hidupnya.”
Puasa adalah sarana satu-satunya yang efektif untuk detoksinasi racun yang menumpuk di dalam tubuh. Puasa membersihkan saluran pencernaan secara sempurna dari bakteri-bakteri selaam satu minggu puasa. Proses detoksinasi untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dan racun yang menumpuk pada jaringan tubuh melalui air liur, getah lambung, getah kuning, dan getah pankreas, usus, mucus, air seni, dan keringat. Kadar getah dan tingkat keasamannya jauh berkurang dengan berpuasa. Dr. Muhammad Said al-Buthi mengatakan, “Puasa dapat mencegah penumpukan zat-zat beracun yang berbahaya seperti asam pada air seni, serta fosfat amoniak dan magnesia pada darah, serta dampak-dampanya, yaitu penumpukan racun pada sedi dan kandung kemih, dan mencegah penyakit rematik.
Berbagai penelitian medis membuktikan bahwa puasa sehari itu dapat menghilangkan ampas dan racun yang mengendap selama sepuluh hari. Sehingga dalam setahun perlu puasa selama 36 hari. Dari sini kita memahami hikmah perintah Nabi صلى الله عليه وسلم untuk berpuasa selama enam hari bulan Syawwal, agar proses detoksinasi itu sempurna. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa bulan Ramadhan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari bulan puasa, maka itu seperti puasa setahun.”
Mengenai perintah Nabi saw untuk puasa tiga hari setiap bulan (Ayyuamul Bidh), pengetahuan modern pada tahun-tahun terakhir menemukan bahwa bulan pada hari ke-13, 14, dan 15 itu mengakibatkan peningkatan sensitifitas syaraf dan ketegangan psikologis hingga tingkat yang dapat membuat seseorang gila.

Waktu yang tepat untuk puasa
Waktu puasa syar’i adalah dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari, dengan tidak berlebihan saat berbuka puasa. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa jarak waktu yang tepat untuk puasa adalah antara 12 hingga 18 jam. Sesudah itu, simpanan gula dalam tubuh mulai terurai. Dreanik dkk. pada tahun 1964 mencatat sejumlah penyakit komplikasi kritis akibat berpuasa lebih dari 31 hari (wishal). Di sini tampak jelas mukjizat Nabawi dalam larangan puasa wishal atau bersambung.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Janganlah kalian puasa wishal.” Para sahabat bertanya, “Tetapi engkau berpuasa wishal, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian tidak sepertiku. Sesungguhnya Tuhanku memberiku makan dan minum saat aku tidur malam.”
Adapun mengenai waktu puasa yang baik siang hari adalah karena pada waktu itu rata-rata orang beraktifitas sehingga terjadi pembakaran. Juga karena bila malam hari rata-rata orang sudah tidur, jadi manfaat puasa sebagaimana dimaksud tidak akan tercapai.
Walloohua’lam

Menu Puasa
Menu ini terkait dengan orang yang puasa, apakah ia dalam kondisi sehat, atau dalam kondisi sakit tertentu yang masih boleh atau bahakan dianjurkan untuk berpuasa.
Untuk orang sehat sebagaimana telah kami jelaskan dalam pembahasan masalah menu buka dan sahur. Cuma disini akan kami tambahkan beberpa hal yang terlewat:
Berbukalah dengan minuman hangat. Minuman dingin akan membuat rasa haus terus-menerus, perut kembung, dan menyebabkan lapar di tengah malam.
Menu sahur sebaiknya tak terlalu berbumbu tajam atau pedas karena akan membuat cepat lapar.

Untuk penderita penyakit tertentu, insyaAlloh akan kita bahas secara lebih detail dalam bab khusus.

Puasa adalah ibadah yang disyari’atkan di dalam Islam. Dia merupakan kewajiban bagi setiap muslim apabila datang bulan romadhon, dan menjadi hal yang sunnah bila diluar romadhon.
Suatu keyakinan yang harus ada dalam setiap muslim adalah bahwa semua yang disyari’atkan oleh Alloh pasti baik dan bermanfaat bagi yang melaksanakan, dan semua yang dilarang dalam dalam syari’at pasti jelek dan membawa madhorot (kejelekan) bagi yang melaksanakannya. Hal ini mutlak benarnya, meskipun kadangkala manusia belum mengetahui hikmah (manfaat) dari sesuatu yang disyari’atkan tersebut. Demikian halnya dalam masalah puasa ini, harus diyakini bahwa puasa ini baik dan membawa manfaat bagi yang melaksanakannya.
Namun dalam pelaksanaan ibadah puasa agar membawa manfaat, tentulah harus mengetahui aturan yang benar, baik secara syar’i maupun secara medis. Pelaksanaan puasa secara serampangan tanpa aturan atau memakai aturan sendiri, pada akhirnya akan merugikan diri sendiri bahkan mungkin juga orang lain.
Ada ungkapan yang seingat saya diakitkan dengan suatu hadits yang mafhumnya “Puasalah kamu, maka engkau akan sehat”. Tetapi dalam sebuah tulisaan ilmiah yang sempat saya baca bahwa hadits tersebut lemah dan tidak bisa dipakai sebagai pijakan hukum.
Terlepas dari derajat hadits tersebut, kita bisa memahami dari konteksnya beberapa hal:
Dengan berpuasa, maka seseorang akan tetap sehat. Dengan demikian kalimat diatas bisa difahami bahwa puasa sebagai sarana menjaga kesehatan.
Dengan berpuasa, seseorang yang sakit akan menjadi sehat. Dengan demikian kalimat diatas dapat difahami bahwa puasa sebagai salah satu cara pengobatan.

Kedua pemahaman tersebut, -tanpa kita kaitkan dengan hadits-, bisa benar maupun salah. Hal ini terkait dengan bagaimana seseorang tersebut berpuasa. Jika puasanya sesuai dengan aturan syar’i dan juga aturan medis, insyaAlloh menjaga kesehatan dengan puasa menjadi suatu hal yang harus dilaksanakan. Adapun puasa untuk penyembuhan suatu penyakit, maka hal ini terkait dengan penyakit yang diderita oleh seseorang dan tergantung dengan menu/diet yang ada didalamnya.
Adapun puasa yang ditujukan untuk mencari kesaktian, maka hal ini tidaklah di syari’atkan bahkan dilarang. Nanti akan anda ketahui cara-cara puasa yang tidak wajar yang dijalani untuk ritual tertentu, pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan akan membawa madhorot (dampak buruk).
Akhirnya semoga tulisan ini membawa manfaat bagi penulis, maupun pembaca semuanya baik di dunia maupun di akherat kelak, aamiin

Beragam pendapat tentang puasa hubungannya dengan kesehatan, dari yang paling anti puasa hingga yang paling berlebihan tentang puasa. Dari pendapat yang mengatakan puasa bikin sakit, bikin lemas nggak produktif, bahkan ada yang beranggapan bahwa puasa sebagai penyiksaan. Sampai pendapat yang mengatakan puasa bisa bikin orang sakti, segala penyakit bisa sembuh dll. Lalu, bagaimana yang sebenarnya?
Insya Alloh akan kita bahas masalah ini dalam kesempatan kali ini. Pembahasan akan kita susun dengan urutan berikut:

Tinjauan secara umum
Puasa yang menyehatkan
Siapa yang bisa sehat dengan puasa?
Kapan waktu yang tepat untuk puasa?
Menu yang tepat untuk puasa
Puasa yang tidak sehat
Siapa yang tidak baik untuk berpuasa?
Waktu yang tidak tepat untuk puasa
Menu yang tidak tepat untuk puasa
Kesimpulan & Penutup

Berikut ini hal hal yang perlu diperhatikan dalam berbuka puasa:

  1. Menyegerakan Berbuka

Menyegerakan berbuka merupakan Sunnah Rasulullah, dan akan mendatangkan kebaikan. Dari Sahl bin Sa’ad,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. (HR Bokhori-1821)

  1. Memulai berbuka dengan makan yang ringan dan manis

    buka puasa sebaiknya diawali makan yang ringan namun manis. Hal ini diharapkan agar lambung siap menerima makanan dan tidak kaget, adapun makan manis akan mempercepat pemulihan energi, sebagaimana gula adalah yang paling cepat diubah menjadi energi. Makan yang cocok adalah buah seperti kurma atau yang lainnya.

  2. Hindari memulai berbuka dengan makanan yang merangsang lambung

    makanan yang merangsang lambung diantaranya; es, santan, pedas, masam/kecut, kopi, minuman bersoda, dll. Makan atau minuman yang merangsang lambung ini jika pencernaan tidak siap dapat menyebabkan kolik di usus (kram usus) bahkan dapat menyebab ilius (orang jawa: munter).

  3. Makan dan minum dalam porsi sedikit saja

    Buka puasa hendaknya diawali dengan porsi kecil, sehingga pencernaan tidak langsung bekerja berat. Perlu diketahui bahwa makanan dan minuman yang masuk tidak langsung diubah menjadi energi, tetapi butuh proses terlebih dahulu menjadi monosakarida dan seterusnya menjadi energi. Untuk proses tersebut juga memerlukan energi, sehingga apabila tubuh dipaksa langsung mencerna makanan dalam jumlah besar, maka yang terjadi adalah banyak energi yang diperlukan untuk hal tersebut. Padahal belum ada makanan yang masuk yang telah diubah menjadi energi. Akibatnya tubuh kita akan lemas berat. Munkin setelah 1 jam baru energi terbentuk. Hal ini cukup merugikan apalagi kita perlu sholat maghrib.

    Makanan dalam porsi besar akan menyebabkan lambung penuh dengan mendadak, hal ini sangat memacu pengeluaran asam lambung untuk melumatkan makanan. Akibatnya akan banyak muncul gas. Hal ini akan menyebabkan perut terasa tidak nyaman karena banyaknya gas dan pebuhnya lambung dengan makanan.

  4. Makan dan minum sebagaimana biasa setalah sholat maghrib atau setelahnya

    setelah sholat maghrib insyaAlloh pencernaan telah siap untuk menerima makanan dalam porsi cukup besar. Namun yang perlu diingat makanan harus memperhatikan kondisi tubuh dan sebaiknya makan secara bertahap.

    Demian semoga buka puasa kita menjadi lebih nikmat dan mendapat pahala. Aamiin

    walloohu a’lam

bersambung insyaAlloh……

    Menjalankan puasa bukan berarti berhenti total berolahraga. Justru aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk menjaga kelancaran peredaran darah agar kita tidak mudah loyo. Namun untuk urusan ini pilih olahraga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih, seperti lari-lari kecil atau jalan kaki. Sebaiknya lakukan olahraga menjelang waktu berbuka senagian ahli menyarankan sekitar 2 jam sebelum berbuka puasa. Tarawih selain ibadah juga sebagai sarana menjaga kebugaran jasmani karena saat melakukan sholat tarawih sama dengan membakar kalori.

    Walloohu a’alam

Aktifitas dikala Puasa

Secara umum tidak ada perbedaan yang mencolok dalam hal aktivitas baik dalam keadaan puasa maupun tidak. Namun ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam beraktifitas dikala puasa, yaitu:
Karena puasa yang kita lakukan di bulan romadhon adalah untuk beribadah, maka aktifitas utama adalah memperbanyak ibadah di sepanjang waktu. Otomatis hal ini akan mengurangi jatah waktu untuk aktifitas lainnya. Maka yang perlu di lakukan adalah memilih aktifitas selain ibadah yang penting-penting saja.
Hindari aktifitas yang banyak mengeluarkan keringat.
Tidur siang yang cukup
Hindari aktifitas yang banyak menimbulkan ketegangan psikis.
Hindari aktifitas yang banyak terpapar sinar matahari
hindari aktifitas yang banyak menimbulkan goncangan terutama pada perut. Semisal naik motor pada jalan yang terjal, dll.
Jangan terlalu banyak berbicara, karena akan menimbulkan tenggorokan kering.
saat ingin beraktivitas di luar ruangan, apalagi saat cuaca panas, gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang nyaman dan menyerap keringat. Hal ini akan membantu mengurangi penguapan cairan tubuh.
Mungkin masih banyak yang belum saya sebutkan. Walloohu a’lam

Banyak orang beranggapan sahur itu tidak penting, yang penting malam sudah makan banyak maka hal tersebut sudah mencukupi. Tetapi ada pula yang merasa penting untuk sahur, tetapi mereka berpedoman “apapun makanannya yang penting sahur”. Bagaimana seharusnya kita sahur, agar nanti ketika berpuasa akan terasa lebih nyaman? Simak pembahasan berikut.

1 Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhiri waktu makan sahur dengan waktu yang tak jauh dari saat terbit fajar. Telah diriwayatkan dari Anas dari Zaid bin Tsabit, bahwasanya dia pernah berkata:

قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

Kami bertanya kepada Anas, “Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan shalat?” Anas bin Malik menjawab, “Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat.”

Hikmah mengikuti Sunnah Nabi dengan mengakhirkan sahur memang banyak manfaatnya bagi tubuh. Diantara hikmahnya adalah:

  • Mengikuti sunnah Rosul
  • memulai puasa dengan cadangan energi yang cukup. Hal ini karena kita makan menjelang waktu dimulainya puasa.
  • Menjaga pola makan yang teratur. Namun hal ini berkaitan dengan berbukanya nanti. Artinya bahwa bila kita sahur di akhir waktu dan berbuka diawal waktu, maka pengosongan dan pengisian lambung dengan makanan mempunyai interval waktu yang relatif sama. Hal ini sangat bermanfaat agar kenaikan asam lambung tidak melonjak drastis, pengosongan lambung akan teratur, dll. Sehingga kesehatan organ pencernaan akan terjaga.
  • Bila setelah sahur tidak tidur lagi, maka sholat subuh akan terjaga dan tidak ketiduran

2 Hindari Tidur Setelah Makan Sahur

Kebanyakan orang sering tidur setelah makan sahur. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya, karena makan sahur saat masih tengah malam atau jauh dari terbit fajar. Selain tidak mengikuti Sunnah mengakhirkan sahur, shalat Subuh mungkin tak bisa terjaga dengan baik (tidak tepat waktu). Keadaan ini akan nembuat tubuh menjadi semakin lemas pada siang hari.

Setelah makan sahur, tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan yang dimakan. Apabila setelah sahur langsung tidur, maka hal ini akan memhambat/mengganggu proses penyerapan makanan. Akibatnya:

  • proses pencernaan lebih lama karena dalam posisi tidur penurunan makan ke saluran pencernaan bagian bawah akan lambat, hal ini menambah pengeluaran energi hanya untuk mencerna makanan. Akibatnya badan cepat capek.
  • Akan muncul gas yang banyak, karena makan yang sudah mulai membusuk tetapi masih di lambung (atau saluran pencernaan bagian atas). Akibatnya perut terasa tidak nyaman.
  1. Menu Makan Sahur

    Sebuah slogan, “apapun makanannya yang penting sahur” ada baiknya untuk kita tinggalkan. Lalu apa makanan yang cocok untuk makan sahur? Simak pembahasan berikut:

    a. makanlah makanan yang cepat diserab saluran pencernaan dan mengandung kadar gula cukup. Pilihan utamanya adalah buah, semacam jus atau lainnya.

    b. jangan makan makanan yang cepat diserab bersamaan dengan makanan yang lama diserab oleh pencernaan. Sebagai contoh jangan makan daging yang banyak dengan porsi nasi yang banyak pula. Karena daging cukup lama untuk diserab, sehingga akan mengganggu penyerapan nasi. Apabila nasi lama tidak diserab sedangkan dia telah mengalami penguraian (pembusukan) maka akibatnya akan muncul gas yang cukup banyak, hal ini mengakibatkan perut terasa tidak nyaman. Solusinya adalah, bila anda makan daging yang banyak, nasinya sedikit saja. Atau makan yang cepat diserab dulu, baru yang agak lama, kemudian yang paling lama.

    c. memperbanyak minum air saat sahur dan berbuka. Air yang diminum sebaiknya air putih biasa, bukan teh, kopi, atau soda. Sebab, minuman-minuman tersebut mengandung kafein yang bersifat diuresis atau menambah frekuensi kencing. Makin banyak buang air kecil, makin banyak pula cairan tubuh yang terbuang.

    d. sebagian penulis menganjurkan untuk menghindari makanan dan minuman yang banyak mengandung gula saat sahur.

    Mereka mengatakan:Makanan dan minuman yang terlalu banyak mengandung gula akan memacu tubuh memproduksi insulin untuk segera menetralkan kadar gula dalam darah. Akibatnya rasa lapar akan cepat timbul dan badanpun menjadi cepat lemas dan lesu. Perbanyak makanan yang mengandung protein tinggi karena protein akan diolah lebih lambat dibanding jenis makanan lain.

    Namun menurut saya hal ini tidak mutlak benar, ditinjau dari beberapa hal berikut:

    - salah satu teori kenyang adalah bila kadar gula di dalam darah cukup banyak. Memang benar bahwa kadar gula yang tinggi di dalam darah akan memicu insulin, yang mana insulin ini akan membawa gula ke jaringan. Dijaringan inilah gula tersebut akan digunakan sebagai energi. Apabila gula dalam bentuk monosakarida tidak mencukupi didalam jaringan maka tubuh akan mengambil cadangan gula (dalam bentuk glikogen).

    - energi yang dihasilkan dari proses pembakaran makanan adalah berasal dari gula dalam bentuk monosakarida. Sehingga apabila kita makan makanan yang mengandung gula (baik polisakarida, disakarida maupun monosakarida) akan lebih cepat terbentuk sebagai energi dibandingkan kita mengkonsumsi lemak maupun yang lainnya. Karena lemak maupun protein, akan diubah menjadi energi jika sudah diubah terlebih dahulu menjadi monosakarida (gula).

    - kelebihan gula di dalam jaringan akan di simpan dalam bentuk glikogen. Apabila tubuh kekurangan gula, maka glikogen ini akan dipecah kembali menjadi monosakarida.

    Jadi kesimpulannya makan sahur dengan makanan dengan kadar gula tinggi tidak mutlak salah, bahkan mungkin juga bermanfaat.

    Jadi menu yang cocok untuk makan sahur adalah awali dengan makan buah atau minum jus buah. Setelah kira-kira 0,5 – 1 jam baru makan nasi atau daging dgn syarat jangan makan daging dalam porsi banyak bersama dengan nasi yang banyak pula.

    Bahkan sebetulnya makan sahur dengan jus buah dalam jumlah cukup banyak, sudah mencukupi kebutuhan energi dalam sehari dengan catatan bukan untuk aktifitas berat.

Dekian semoga sahur anda menjadi berkah, dan mampu menjalankan ibadah puasa dengan penuh kekhusyu’an. Aamiin.

Walloohu a’lam

Ramadhan segera tiba. Bulan yang dimuliakan Allah serta banyak keutamaan daripada bulan-bulan lainnya yang harus kita sambut dengan semangat ibadah. Dan tentunya, kita menginginkan berpuasa dengan amalan-amalan berpahala tanpa kelesuan. Meskipun perut kosong sejak pagi hingga menjelang maghrib, tidak boleh menghalangi kita untuk memperbanyak amal ibadah yang disyari’atkan Alloh. Dengan demikian kita berharap puasa kita di bulan suci kali ini membawa berkah dan diterima oleh Alloh. Untuk hal tersebut, maka kita perlu mempersiapkannya sejak dini.

Lalu, apakah yang perlu kita persiapkan? Silahkan simak pemaparan berikut:

  • Persiapan Ilmu Syari’at

    Ini adalah hal yang paling pokok yang harus kita persiapkan. Karena padda bulan ini kita melaksanakan puasa adalah karena perintah Alloh yang telah disayari’atkan kepada kita, maka kita harus mempelajari syari’at tersebut. Sehingga antara apa yang diperintahkan dengan apa yang kita amalkan menjadi sesuai/sinkron. Sesuatu yang aneh jika kita melaksanakan perintah seseorang, tetapi tidak paham apa yang diperintahkan.

  • Persiapan Psikologis

    Secara psikologis, setiap orang akan berbeda dalam menyongsong datangnya bulan romadhon. Dari yang paling bahagia dan sangat menantikannya, sampai yang berduka dan sangat sedih menghadapinya. Secara umum puasa adalah sesuatu yang berat secara fisik bagi setiap orang, terutama yang berbadan gemuk, pekerja berat, wanita hamil dan/atau menyusui, manula maupun orang sakit.

    Bagi orang yang sangat berharap keridhoan Alloh, mereka akan mempunyai semangat dalam menjalankan puasa lebih dari yang lainnya. Hal ini, akan sangat membantu dalam menepis rasa berat dalam menjalankan ibadah puasa yang akan dialaminya. Sehingga semakin tinggi keimanan seseorang maka akan semakin mudah dalam menjalankan ibadah di bulan yang suci ini. Maka bekal iman dan ilmu syar’i sangat berperan didalamnya.

    Motivasi yang kuat untuk berpuasa menyebabkan fisik kita siap untuk menghadapi sesuatu yang diakibatkan oleh puasa tersebut. Diketahui bahwa kadar asam lambung orang yang niat puasa lebih rendah dari orang yang kelaparan. Hal ini karena niat(motivasi) puasa menyebabkan penekanan pusat lapar di otak sehingga kita siap menahan lapar sampai waktu berbuka.

  • Persiapan Fisik

    Ibadah puasa adalah suatu ibadah fisik dan psikis, sehingga secara fisikpun juga harus dipersiapkan. Persiapan tersebut, bertingkat sesuai dengan kemampuan baik secara ilmu maupun materi.

    Secara umum persiapan fisik meliputi hal berikut:

  • menjaga agar tidak kelelahan menjelang puasa.
  • tidak mengkonsumsi makanan yang ada kemungkinan mengganggu secara fisik, seperti makanan yang merangsang lambung, kolesterol tinggi, banyak minum es, dll.
  • olah raga secukupnya.
  • tidur yang cukup.
  • Persiapan Materi

    Persiapan ini memang tidak mutlak, tetapi bila dipersiapkan sejak awal akan memberi faedah yang insyaAlloh tidak sedikit. Persiapan ini meliputi keuangan maupun makanan dana lainnya.

    Banyak kaum muslimin, terutama mereka yang bekerja swasta mandiri, yang mereka menabung agar pada waktu datang bulan romadhon mereka bisa fokus total untuk beribadah dan tidak terganggu dengan memikirkan pekerjaan. Maka persiapan materi semacam ini insyaAlloh sangat bermanfaat.

    Atau minimal bila sudah ada bekal materi yang dipunyai, mereka bekerja ala kadarnya yang tidak menguras tenaga dan fikiran.

    Oleh karena itu, hal ini cukup penting untuk dipertimbangkan

walloohu a’lam

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.