STROKE DAN PENCEGAHANNYA

dr. K. Hindro Kusumo

A. Pendahuluan

Penyakit pembuluh darah otak atau yang lazim dikenal sebagai stroke, adalah gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda klinis baik fokal maupun global (menyeluruh) yang berlangsung akut lebih dari 24 jam, atau dapat menimbulkan kematian yang disebabkan oleh karena gangguan peredarandarah otak. Stroke termasuk salah satu golongan penyakit saraf yang paling sering dijumpai dalam praktek sehari-hari.

Stroke yang dulu diduga banyak terdapat hanya di negara-negara barat (maju), ternyata juga tidak jarang dijumpai di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Insidensnya meningkat dengan bertambahnya usia, sehingga dapat diperkirakan bahwa dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka jumlah kasus stroke juga akan bertambah besar. Hal ini dapat dimengerti bila diingat bahwa faktor-faktor risiko stroke lebih sering ditemukan pada usia lanjut.

Selain sering menyebabkan kematian (sebagai penyakit penyebab kematian terbanyak dalam urutan nomor 3), stroke juga dikenal sebagai penyakit utama penyebab kecacatan. Dengan sifat-sifatnya yang demikian, stroke ditempatkan sebagai masalah kesehatan yang serius.

B. Faktor Risiko Stroke

Faktor risiko stroke adalah suatu karakteristik yang ada pada seseorang yang dapat menyebabkan orang tersebut rentan atau mudah untuk terserang penyakit stroke. Faktor-faktor tersebut adalah:

Hipertensi

Diabetes Mellitus

Penyakit Jantung

TIA (Trans Ischemic Attack)

Perokok

Hiperkholesterolemia

Peminum alkohol

Pemakai pil kontrasepsi

Kegemukan

Dll.

Tipe-tipe stroke dikenal sebagai berikut:

– Stroke iskhemik (penyumbatan)

– Stroke Perdarahan

C. Gejala-gejala dan Tanda-tanda Stroke

Terjadinya akut atau mendadak

Lemah/lumpuh separuh badan

Bicara pelo/pelor

Bibir miring

Kram-kram/hilang rasa pada badan yang lumpuh

Bisa disertai dengan tidak bisa bicara

Sulit menelan

Buang air besar/buang air kecil tidak terasa (terganggu)

Kadang-kadang disertai dengan hilangnya kesadaran.

Kejang-kejang

Dan lain-lain tergantung lokasi kerusakan di otak.

Karena stroke adalah penyakit yang akut dan darurat, maka bila seseorang terserang stroke harus segera dibawa ke Rumah Sakit. Dengan penanganan yang cepat dan tepat dapat menyelamatkan penderita dari kematian ataupun cacat tubuh yang berat.

D. Pencegahan Stroke

Selama angka insidensi masih tinggi dan hasil pengobatan stroke masih terbatas, maka potensi untuk mengendalikan kenaikan angka kejadian stroke terletak pada usaha prevensi (pencegahan) primer. Yaitu kegiatan untuk mengendalikan faktor-faktor risiko pada orang-orang dengan risiko tinggi untuk terjadinya stroke.

1. Pencegahan Primer

Karena stroke merupakan akibat dari berbagai penyakit dan keadaan yang banyak berhubungan dengan gaya hidup (perilaku dan kebiasaan hidup sehari-hari), maka pencegahannya ditujukan pada pencegahan primer.

Pencegahan primer bisa dijelaskan sebagai berikut:

a. Orang-orang yang belum mempunyai faktor risiko, biasanya lebih diarahkan ke pola hidup sehat:

Mengatur pola makan yang sehat

Menghentikan merokok

Menghindari minum alkohol dan penyalahgunaan obat

Teratur berolah raga

Menghindari stress dan

Istirahat yang cukup.

b. Orang-orang yang sudah mempunyai faktor risiko tetapi belum terserang stroke:

Kontrol teratur faktor risiko, seperti: pengendalian tekanan darah, pengendalian gula darah, dan sebagainya.

Berperilaku hidup sehat seperti telah dijelaskan dimuka.

2. Pencegahan Sekunder

Ditujukan pada orang-orang yang sudah terserang stroke untuk mencegah stroke berulang. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi stroke yang kedua dan seterusnya yang biasanya akan lebih berat dari serangan sebelumnya.

a. Pada fase akut:

Rawat Inap di Rumah Sakit

Rehabilitasi Medik

b. Pada fase kronik:

Minum obat-obat stroke secara teratur

Minum obat-obat pengendali faktor risiko (Obat anti Hipertensi, Obat anti DM, Obat-obat untuk kholesterol, dsb.)

Rehabilitasi Medik

Mengatur pola hidup

Kolesterol Biang Penyakit Jantung

Dr. K. Hendro Kusumo

dr.HendroXYZ@yahoo.com

Saat ini di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika, penyakit jantung koroner (PJK) justru sudah mulai menunjukkan penurunan. Hal ini terjadi karena perubahan pola hidup termasuk pola makan. Namun di negara berkembang seperti Indonesia angka kejadian penyakit jantung koroner malah ada kecenderungan meningkat, walaupun belum ada data pasti, namun menurut catatan para ahli dugaan ini mendekati kebenaran. Pola makan yang salah mungkin merupakan salah satu faktor meningkatnya kasus penyakit jantung koroner dinegara berkembang. Makanan berkadar lemak tinggi, seperti susu, telor, keju, minyak kelapa, mentega, merupakan kebiasaan yang sulit diatasi.

Apa itu kolesterol?

Kolesterol adalah suatu bahan berlemak yang terjadi secara alamiah di dalam tubuh manusia. Masyarakat biasanya memandang kolesterol dengan konotasi negatif. Padahal, sessungguhnya kolesterol tidak selalu buruk untuk kesehatan. Dari segi ilmu kimia, kolesterol merupakan senyawa lemak yang kompleks yang dihasilkan oleh tubuh dengan bermacam- macam fungsi, antara lain membuat hormon seksual, adrenalin, dan membentuk dinding sel. Disebabkan pentingnya fungsi kolesterol, tubuh membuatnya sendiri di dalam hati atau lever. Kolesterol yang berada dalam zat makanan yang kita makan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Sejauh pemasukan ini masih seimbang dengan kebutuhan, tubuh kita akan tetap sehat. Namun, sangat disayangkan kebanyakan dari kita memasukkan kolesterol lebih daripada yang diperlukan, yakni dengan makan makanan mengandung lemak yang kaya akan kolesterol. Hasilnya mudah diterka. Kadar kolesterol darah meningkat melebihi angka normal. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat- zat lain dan mengendap di dalam pembuluh darah arteri sehingga menyebabkan penyempitan dan pengerasan yang dikenal sebagai arterosklerosis. Jika penyempitan dan pengerasan ini cukup berat akan menyebabkan suplai darah ke otot jantung tidak cukup jumlahnya, timbul sakit atau nyeri di dada yang disebut angina, bahkan dapat menjurus ke serangan jantung. Disinilah kolesterol tersebut berperan negatif terhadap kesehatan. Melihat alasan tersebut, kadar kolesterol yang abnormal menjadi faktor resiko utama penyakit jantung koroner.

Diperkirakan dua pertiga dari seluruh kolesterol yang ada di dalam tubuh diproduksi oleh hati atau lever. Singkatnya, sepertiga dari seluruh kolesterol dalam tubuh diserap oleh sistim pencernaan dari makanan yang kita makan. Makanan yang mengandung kolesterol adalah makanan produk susu. Makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak seperti daging, margarin, mentega, keju,dan minyak kelapa dapat pula dibentuk dari hati atau lever. Begitu kolestrol dan trigliserida dicerna, keduanya terikat dalam suatu ikatan yang membawanya ke berbagai tempat yang berbeda di seluruh tubuh. Kolestrol digunakan untuk membangun dinding sel dan untuk memproduksi hormon.

Trigliserida adalah salah satu jenis lemak yang terdapat di dalam darah dan berbagai organ di dalam tubuh. Dari sudut ilmu kimia, trigliserida merupakan substansi yang terdiri dari gliserol yang mengikat gugus asam lemak. Mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak akan meningkatkan trigliserida di dalam darah dan cenderung meningkatkan kadar kolestrol.. Baik kolestrol maupun trigliserida dibawa melalui darah oleh lipoprotein. Lemak yang berasal dari buah-buahan, seperti kelapa, durian, dan alpukat tidak mengandung kolestrol, tetapi kadar trigliseridanya tinggi. Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar trigliserida di dalam darah adalah kegemukan (obesitas), makanan berlemak,  gula biasa (glukosa), dan alkohol. Para ahli menegaskan bahwa peningkatan kadar trigliserida di dalam darah merupakan salah satu risiko penyakit jantung koroner(PJK).

Lemak dan kolesterol tidak larut dalam cairan darah tetapi kedua zat ini harus larut agar dapat dikirim ke seluruh tubuh. Oleh karena itu, lemak dan kolesterol “dikemas” bersama protein menjadi partikel yang disebut lipoprotein. Jadi, lipoprotein bisa dianggap pembawa lemak dan kolesterol di dalam darah. Ada 5 jenis lipoprotein utama:

1. Kilomikron, tersusun dari trigliserida dan beberapa kolesterol

2. IDL-kolesterol (intermediate density lipoprotein), dibuat dari VLDL-kolesterol dan membawa kolesterol melalui darah

3. VLDL-kolesterol(very low density lipoprotein), membawa kolesterol dari hati dan membawa sebagian besar trigliseida dalam darah. Pada proses selanjutnya sebagian VLDL berubah menjadi LDL

4. LDL-kolesterol (low density lipoprotein), yang mengangkut paling banyak kolesterol di dalam darah. Sering dinamakan kolesterol “buruk” atau “jahat”, karena kadar LDL yang tinggi menyebabkan mengendapnya kolesterol didalam arteri sehingga sering menutupi bagian dalam dinding arteri

5. HDL-kolesterol (high density lipoprotein), mengangkut kolesterol lebih sedikit dibandingkan dengan jenis yang lainnya. HDL-kolesterol sering disebut kolesterol “baik” karena mengirim kelebihan kolesterol “jahat” di pembuluh arteri kembali ke lever untuk diproses dan dibuang

Jadi, HDL mencegah kolesterol mengendap di arteri dan melindungi atau memproteksi dari arterosklesoris dan penyakit jantung koroner. Kadar total kolesterol, HDL, dan trigliserida di dalam darah dapat diketahui dengan tes di laboratorium setelah melakukan puasa selama lebih kurang 10 jam. Kolesterol dihitung dalam jumlah total kolesterol yang ada di semua lipoprotein yang bersikulasi di dalam darah.

Berapa kadar kolesterol dan trigdaliserida yang dianjurkan? Berikut adalah kadar lemak yang dianjurkan, agar resiko penyakit jantung koroner dapat dikurangi:

Kadar kolesterol kurang dari 200 mg/dl; kadar LDL kurang dari 100 mg/dl; kadar HDL sebaiknya lebih besar dari 60 mg/dl; kadar Trigliserida kurang dari 150 mg/dl.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila kadar kolesterol darah meningkat dari 150 mg% menjadi 260 mg%, maka risiko penyakit jantung koroner akan meningkat tiga kali lipat.

Negara-negara seperti Amerika dan Finlandia, diamana penduduknya memiliki kadar kolesterol darah rata-rata tinggi, memiliki insiden penyakit jantung tertinggi didunia, sebaliknya, Jepang dimana penduduknya memiliki kadar kolesterol yang rendah, maka insiden penyakit jantung juga rendah. Setiap penurunan satu persen kadar kolesterol darah, maka akan terjadi penurunan risiko penyakit jantung sebesar dua persen.

Terjadinya penyumbatan dan penyempitan pembuluh arteri kororner tersebut disebabkan oleh penumpukan zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi. Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya penimbunan zat lemak ini adalah gaya hidup, khususnya pola makan.

Penyakit jantung kerap diidentikkan dengan penyakit akibat “hidup enak”, yaitu terlalu banyak mengkonsumsi makanan mengandung lemak dan kolesterol. Hal ini semakin menjadi dengan kian membudayanya konsumsi makan siap saji alias junk food dalam kurun waktu satu dekade ini.

Tak dapat dimungkiri, junk food telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat di Indonesia. Lihat saja berbagai gerai yang terdapat di mal-mal, selalu penuh oleh pengunjung dengan beragam usia, dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

Padahal junk food banyak mengandung sodium, lemak jenuh dan kolesterol. Soium merupakan bagian dari garam. Bila tubuh terlalau banyak mengandung sodium,dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi lah yang dapat berpengaruh munculnya gangguan penyakit jantung.

Lemak jenuh berbahaya bagi tubuh karena merangsang hati untuk memproduksi bnnyak kolesterol yang juga berperan akan munculnya penyakit jantung. Karena kolesterol yang mengendap lama-kelamaan akan menghambat aliran darah dan oksigen sehingga menggangu metabolisme sel otot jantung.

Meningkatnya jumlah junk food yang masuk ke pasar Indonesia pun memunculkan fenomena baru, yaitu obesitas atau berat badan berlebih. Masalah kegemukan ini juga makin banyak ditemui pada usia anak-anak. Tema ini pula yang diangkat untuk Hari Jantung Sedunia 2005 pada bulan September lalu, yang mengingatkan bahwa obesitas merupakan faktor resiko utamanya terjadinya penyakit jantung.

Pada penderita obesitas, jantung harus bekerja lebih keras agar dapat menyuplai darah ke seluruh tubuh. Secara signifikan hal ini dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. Dengan makin banyaknya orang yang mengidap obesitas di usia dini, bukan tidak mungkin bila usia penderita penyakit jantung pun kian muda.

Kolesterol semdiri terdiri dari 2 jenis, yaitu High Density Lipoprotein (HDL) yang sering disebut kolesterol baik dan Low Density Lipoprotein (LDL), yang sering disebut kolesterol jahat. Metabolisme tubuh dan kinerja jantung akan terganggu bila kadar LDL dalam darah tubuh lebih banyak daripada kadar HDL. Patut diingat, bahan makanan yang tinggi kadar kolesterol antara lain kuning telur, otak, hati, paru, usus, kepiting dan kerang.

Terapkan Diet Seimbang

Cara terbaik untuk menjaga tubuh dari serangan jantung adalah mengubah gaya hidup dengan menjalankan diet seimbang. Diet seimbang bisa juga dikatakan sebagai makanan seimbang, yaitu makanan sehari-hari yang mengandung berbagai zat gizi dalam jumlahdan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan tubuh untuk hidup sehat secara optimal. Komposisinya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral.

Fungsi zat gizi dalam tubuh adalah sebagai sumber energi (karbohidrat dan lemak), zat pembangun (protein) terutama untuk tumbuh kembang serta mengganti sel yang rusak dan sumber xat pengatur (vitamin dan mineral).

Bahan makanan yang mengandung karbohidrat adalah beras, jagung, sagu, ubi dan hasil olahannya. Sumber protein nabati dapat diperoleh dari tempe, tahu, kacang-kacangan, sedangkan protein hewani dari daging, telur, ayam dan ikan. Sedangkan sumber zat pengatur didapat dari sayur dan buah-buahan.

Kelengkapan asupan nutrisi dan gizi tersebut merupakan keharusan, untuk menajaga metabolisme tubuh tetap baik. Sedangkan jumlah dan banyaknya makanan yang dimakan tergantung dari umur, jenis kelamin dan aktivitas sehari-hari.

Setidaknya, konsep makanan seimbang ini harus dimulai dari sekarang dengan menghindari berbagai makanan yang dapat meningkatkan kadar lemak dalam dan kolestrol dalam tubuh

Untuk menghindari penimbunan lemak dalam pembuluh darah, seseorang perlu menghindari lemak jenuh seperti lemak sapi, kambing, makanan bersanatan dan gorengan karena dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.

Lemak tak jenuh tunggal, yang mempunyai pengaruh sedikit terhadap peningkatan kadar kolesterol darah, terdapat pada minyak zaitun, minyak biji kapas, minyak wijen dan minyak kelapa sawit. Sedangakan lemak tak jenuh ganda, yang berpengaruh terhadap penurunana kadar kolesteroldarah terdapat pada minyak jagung, minyak kedelai, minyak kacang tanah, minyak bunga matahari dan minyak ikan.

Ingatlah untuk tidak pernah menggunakan minyak jelantah atau minyak yang digunakan berkali-kali, karena asam lemak tidak jenuh berubah menjadi asam lemak trans yang dapat meningkatkan lipoprotein LDL dan menuunkan lipoprotein HDL.

Konsumsi kacang-kacangan seperti kacang kedelai, ikan, dan biji bunga matahari yang mengandung asam lemak omega-3 (lenoleat) dan omega 6 (linoleat) harus ditingkatkan. Begitu pula dengan sayur, buah, jagung, ubi-ubian yang mengandung serat. Serat pada buah-buahan secara efektif dapat menurunkan kadar kolesterol LDL. Menurut Angelique DP, brand manager PT Nutrifood Indonesia, diet yang baikbagi jantung adalah diet yang rendah lemak dan tinggi serat.

Beberapa makanan tersebut di atas juga mengandung vitamin C dan E yang dapat mencegah jantung. Vitamin C berperan dalam pembentukan kolagen dan merupakan factor positif untuk mencegah serangan jantung koroner. Kekurangan vitamin C menyebabkan kerusalan susunan sel arteri sehingga dapat terisi kolesterol dan menyebabkan aterosklerosis atau proses pengapuran dan penimbunan elemen kolesterol.

Sedangkan vitamin E merupakan antioksidan yang berperan mencegah terjadinya proses oksidasi dalam tubuh, di mana kolesterol LDL yang menembus dinding arteri dapat menyumbat pembuluh darah setelah mengalami oksidasi. Vitamin E dapat ditemukan di minyak nabati (minyak kedelai, minyak jagung dan minyak biji bunga matahari), kacang-kacangan, biji-bijian dan padi-padian.

Metode pemasakan makanan pun harus diperhatikan. Cara yang terbaik adalah dengan ditumis, diungkep, dikukus, rebus, bakar atau panggang.

***

Jantung Koroner dan Kolesterol

Dr. K. Hendro Kusumo

dr.HendroXYZ@yahoo.com

Penyakit jantung dan stroke merupakan penyakit yang sangat menakutkan. Bahkan sekarang ini di Indonesia penyakit jantung menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian.

Penyakit jantung dan stroke sering dianggap sebagai penyakit monopoli orang tua. Dulu memang penyakit-penyakit tersebut diderita oleh orang tua terutama yang berusia 60 tahun ke atas, karena usia juga merupakan salah satu faktor risiko terkena penyakit jantung dan stroke.

Namun sekarang ini ada kecenderungan juga diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkotaan modern.

Ketika era globalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang dapat segera meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup modern. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolah raga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di perkotaan. Padahal kesemua perilaku tersebut dapat merupakan faktor-faktor penyebab penyakit jantung dan stroke.

A. Faktor-Faktor Risiko Penyakit Jantung & Stroke

Ada berbagai macam penyakit jantung, namun penyakit jantung yang umumnya ditakuti adalah jantung koroner karena menyerang pada usia produktif dan dapat menyebabkan serangan jantung hingga kematian mendadak. Penyebab penyakit jantung koroner adalah adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri koroner.

Penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri koroner disebabkan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) yang makin lama makin banyak dan menumpuk di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi. Hal ini mengurangi atau menghentikan aliran darah ke otot jantung sehingga mengganggu kerja jantung sebagai pemompa darah. Efek dominan dari jantung koroner adalah kehilangan oksigen dan nutrient ke jantung karena aliran darah ke jantung berkurang. Pembentukan plak lemak dalam arteri akan mempengaruhi pembentukan bekuan darah yang akan mendorong terjadinya serangan jantung.

1. Ada empat faktor utama penyebab penyakit jantung, yaitu :

· merokok terlalu berlebihan selama bertahun-tahun

· kadar lemak darah (kolesterol) yang tinggi

· tekanan darah tinggi

· penyakit kencing manis

Seperti halnya penyakit jantung, stroke juga erat kaitannya dengan gangguan pembuluh darah. Stroke terjadi karena ada gangguan aliran darah ke bagian otak. Bila ada daerah otak yang kekurangan suplai darah secara tiba-tiba dan penderitanya mengalami gangguan persarafan sesuai daerah otak yang terkena. Bentuknya dapat berupa lumpuh sebelah (hemiplegia), berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, gangguan rasa (sensasi) di kulit sebelah wajah, lengan atau tungkai.

2. Faktor-faktor risiko untuk terjadinya stroke mempunyai kesamaan dengan faktor risiko penyakit jantung, yaitu :

· Merokok

· Hipertensi

· Kadar lemak darah tinggi

· Diabetes mellitus

· Gangguan pembuluh darah/jantung

· Tingginya jumlah sel darah merah

· Kegemukan (obesitas)

· Kurang aktifitas fisik/olah raga

· Minuman alcohol

· Penyalahgunaan obat (Narkoba)

B. Mencegah Penyakit Jantung dan Stroke dengan Pola Hidup Sehat

Upaya pencegahan untuk menghindari penyakit jantung dan stroke dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut.

Untuk pencegahan penyakit jantung & stroke hindari obesitas/kegemukan dan kolesterol tinggi. Mulailah dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan berserat lainnya dan ikan. Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan yang berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya. Makanan yang banyak mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.

Berhenti merokok merupakan target yang harus dicapai, juga hindari asap rokok dari lingkungan. Merokok menyebabkan elastisitas pembuluh darah berkurang, sehingga meningkatkan pengerasan pembuluh darah arteri, dan meningkatkan faktor pembekuan darah yang memicu penyakit jantung dan stroke. Perokok mempunyai peluang terkena stroke dan jantung koroner sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok.

Kurangi minum alkohol. Makin banyak konsumsi alkohol maka kemungkinan stroke terutama jenis hemoragik makin tinggi. Alkohol dapat menaikan tekanan darah, memperlemah jantung, mengentalkan darah dan menyebabkan kejang arteri.

Lakukan Olahraga/aktivitas fisik. Olahraga dapat membantu mengurangi bobot badan, mengendalikan kadar kolesterol, dan menurunkan tekanan darah yang merupakan faktor risiko lain terkena jantung dan stroke

Kendalikan tekanan darah tinggi dan kadar gula darah. Hipertensi merupakan faktor utama terkena stroke dan juga penyakit jantung koroner. Diabetes juga meningkatkan risiko stroke 1,5-4 kali lipat, terutama apabila gula darahnya tidak terkendali.

Hindari penggunaan obat-obat terlarang seperti heroin, kokain, amfetamin, karena obat-obatan narkoba tersebut dapat meningkatkan risiko stroke 7 kali lipat dibanding dengan yang bukan pengguna narkoba.

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Dr. K. Hindro Kusumo

Mual dan muntah merupakan gejala yang lazim terjadi pada kehamilan, tertutama  pada kehamilan trimester I. Mual dan muntah sering terjadi pada pagi hari, sehingga gejala ini dikenal juga dengan “morning sickness”. Tetapi dapat pula timbul setiap saat dan juga malam hari. Gejala-gejala ini terjadi kurang lebih 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir (HPMT) dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Pada primi gravida kejadian mual dan muntah:  60 – 80% sedangkan multi gravida 40 – 60%. Pernah juga dilaporkan bahwa satu diantara seribu kehamilan gejalanya sangat parah.

Jika aktivitas sehari-hari menjadi terganggu oleh adanya gejala mual dan muntah ini dan bahkan keadaan umum menjadi buruk, maka kondisi ini disebut hiperemesis gravidarum.

Etiologi

Sampai saat ini hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti penyebabnya. Beberapa hal yang dapat menjadi faktor predisposisi antara lain sebagai berikut :

1.   Primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda adalah beberapa faktor predisposisi yang sering dikemukakan. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.

2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.

3. Sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak, alergi juga disebut sebagai salah satu faktor organik.

4.  Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanaggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.

Hubungan psikologik dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui pasti. Tidak jarang dengan memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah.

Patologi

Pada penelitian dengan bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hiperemesis gravidarum menunjukkan kelainan-kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab.

1.      Hati. Pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenerasi lemak tanpa nekrosis; degenerasi lemak tersebut sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat ditambahkan bahwa separoh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum menunjukkan gambaran mikroskopik hati yang normal.

2.      Jantung. Jantung menjadi lebih kecil daripada biasa dan beratnya atrofi; ini sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial.

3.      Otak. Adakalanya terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti pada ensefalopati Wernicke dapat dijumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil di daerah korpora mamilaria ventrikel ketiga dan keempat).

4.      Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli kontorti.

Patofisiologi

Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung.

Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Faktor psikologik merupakan faktor utama, di samping pengaruh hormonal serta wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.

Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yanga tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Di samping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss), dengan akibat perdarahan gastro intestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfusi atau tindakan operatif.

Gejala dan tanda

Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tidak ada; tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi ke dalam 3 tingkatan :

Tingkatan I. Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung.

Tingkat II. Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernapsan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.

Tingkat III. Keadaan umum leabih parah, muntah berhenti, kesadaran dari somonolen sampai koma, nadi kecil dan cepat; suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke, dengan gejala: nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya patah hati.

Diagnosis

Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah.

Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.

Pengelolaan

Pencegahan :  memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yanag fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

1. Obat-obatan

Apabila dengan cara tersebut di atas keluhan dan gejala tidak mengurangi maka diperlukan pengobatan. Tetapi pelu diingat untuk tidak memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital.vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6. Anti histaminika juga dianjurkan, seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat diberikan antiemetik seperti disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin. Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.

2. Isolasi

Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak diberikan makanan/minum dan selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

3. Terapi psikologik

Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangnya rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

4. Cairan parenteral

Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2 – 3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium, dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara inravena.

Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yanga dikeluarkan. Air kencing perlu diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubain. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk memberikan minuman, dan lambat laun minuman dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair. Dengan penanganan di atas, pada umumnya gejala-gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.

5. Penghentian kehamilan

Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takhikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.

Prognosis

Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

STROKE DAN PENCEGAHANNYA

Dr. K. Hindro Kusumo

A. Pendahuluan

Penyakit pembuluh darah otak atau yang lazim dikenal sebagai stroke, adalah gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda klinis baik fokal maupun global (menyeluruh) yang berlangsung akut lebih dari 24 jam, atau dapat menimbulkan kematian yang disebabkan oleh karena gangguan peredarandarah otak. Stroke termasuk salah satu golongan penyakit saraf yang paling sering dijumpai dalam praktek sehari-hari.

Stroke yang dulu diduga banyak terdapat hanya di negara-negara barat (maju), ternyata juga tidak jarang dijumpai di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Insidensnya meningkat dengan bertambahnya usia, sehingga dapat diperkirakan bahwa dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka jumlah kasus stroke juga akan bertambah besar. Hal ini dapat dimengerti bila diingat bahwa faktor-faktor risiko stroke lebih sering ditemukan pada usia lanjut.

Selain sering menyebabkan kematian (sebagai penyakit penyebab kematian terbanyak dalam urutan nomor 3), stroke juga dikenal sebagai penyakit utama penyebab kecacatan. Dengan sifat-sifatnya yang demikian, stroke ditempatkan sebagai masalah kesehatan yang serius.

B. Faktor Risiko Stroke

Faktor risiko stroke adalah suatu karakteristik yang ada pada seseorang yang dapat menyebabkan orang tersebut rentan atau mudah untuk terserang penyakit stroke. Faktor-faktor tersebut adalah:

· Hipertensi

· Diabetes Mellitus

· Penyakit Jantung

· TIA (Trans Ischemic Attack)

· Perokok

· Hiperkholesterolemia

· Peminum alkohol

· Pemakai pil kontrasepsi

· Kegemukan

· Dll.

Tipe-tipe stroke dikenal sebagai berikut:

– Stroke iskhemik (penyumbatan)

– Stroke Perdarahan

C. Gejala-gejala dan Tanda-tanda Stroke

· Terjadinya akut atau mendadak

· Lemah/lumpuh separuh badan

· Bicara pelo/pelor

· Bibir miring

· Kram-kram/hilang rasa pada badan yang lumpuh

· Bisa disertai dengan tidak bisa bicara

· Sulit menelan

· Buang air besar/buang air kecil tidak terasa (terganggu)

· Kadang-kadang disertai dengan hilangnya kesadaran.

· Kejang-kejang

· Dan lain-lain tergantung lokasi kerusakan di otak.

Karena stroke adalah penyakit yang akut dan darurat, maka bila seseorang terserang stroke harus segera dibawa ke Rumah Sakit. Dengan penanganan yang  cepat dan tepat dapat menyelamatkan penderita dari kematian ataupun cacat tubuh yang berat.

D. Pencegahan Stroke

Selama angka insidensi masih tinggi dan hasil pengobatan stroke masih terbatas, maka potensi untuk mengendalikan kenaikan angka kejadian stroke terletak pada usaha prevensi (pencegahan) primer. Yaitu kegiatan untuk mengendalikan faktor-faktor risiko pada orang-orang dengan risiko tinggi untuk terjadinya stroke.

1. Pencegahan Primer

Karena stroke merupakan akibat dari berbagai penyakit dan keadaan yang banyak berhubungan dengan gaya hidup (perilaku dan kebiasaan hidup sehari-hari), maka pencegahannya ditujukan pada pencegahan primer.

Pencegahan primer bisa dijelaskan sebagai berikut:

a. Orang-orang yang belum mempunyai faktor risiko, biasanya lebih diarahkan ke pola hidup sehat:

· Mengatur pola makan yang sehat

· Menghentikan merokok

· Menghindari minum alkohol dan penyalahgunaan obat

· Teratur berolah raga

· Menghindari stress dan

· Istirahat yang cukup.

b. Orang-orang yang sudah mempunyai faktor risiko tetapi belum terserang stroke:

· Kontrol teratur faktor risiko, seperti: pengendalian tekanan darah, pengendalian gula darah, dan sebagainya.

· Berperilaku hidup sehat seperti telah dijelaskan dimuka.

2. Pencegahan Sekunder

Ditujukan pada orang-orang yang sudah terserang stroke untuk mencegah stroke berulang. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi stroke yang kedua dan seterusnya yang biasanya akan lebih berat dari serangan sebelumnya.

a. Pada fase akut:

· Rawat Inap di Rumah Sakit

· Rehabilitasi Medik

b. Pada fase kronik:

· Minum obat-obat stroke secara teratur

· Minum obat-obat pengendali faktor risiko (Obat anti Hipertensi, Obat anti DM, Obat-obat untuk kholesterol, dsb.)

· Rehabilitasi Medik

· Mengatur pola hidup