Air Susu Ibu dan Kekebalan Tubuh

Air susu ibu selain sebagai sumber nutrisi dapat memberi perlindungan kepada bayi melalui berbagai komponen zat kekebalan yang dikandungnya. Berbagai telaah ilmiah telah dilakukan oleh para ahli terhadap komposisi ASI dan pengaruhnya terhadap kesehatan bayi. Pesan yang dapat disampaikan adalah ASI mengandung nutrisi esensial yang cukup untuk bayi walaupun ibu dalam kondisi kurang gizi sekalipun dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel fagosit (pemusnah) dan imunoglobulin (antibodi). Komponen ASI lain yang juga mempunyai efek perlindungan, antara lain sitokin, laktoferin, lisozim dan musin. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang komponen-komponen tersebut.

Sistem kekebalan tubuh manusia

Setiap makhluk yang lahir dibekali sistem kekebalan tubuh oleh Sang Pencipta baik makhluk yang sangat sederhana yaitu binatang bersel satu seperti amuba maupun makhluk yang paling sempurna seperti manusia. Tingkat kekebalan tubuh yang dimiliki juga bervariasi. Secara garis besar sistem kekebalan tubuh manusia dibagi 2 jenis yaitu :

Kekebalan tubuh tidak spesifik

Kekebalan tubuh tidak spesifik adalah sistem kekebalan tubuh yang ditujukan untuk menangkal masuknya berbagai zat asing dari luar tubuh yang dapat menimbulkan kerusakan/penyakit, seperti bakteri, virus, parasit atau zat berbahaya lainnya. Yang termasuk sistem kekebalan atau pertahanan tubuh tidak spesifik ialah

1. Pertahanan fisik : kulit, selaput lendir
2. Kimiawi : enzim, keasaman lambung
3. Mekanik : gerakan usus, rambut getar selaput lendir
4. Fagositosis : pemusnahan kuman/zat asing oleh sel darah putih
5. Zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman/zat asing.

Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman/zat asing ke dalam tubuh, misalnya kulit yang luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau gangguan proses pemusnahan kuman/zat asing oleh leukosi (sel darah putih).

Kekebalan tubuh spesifik

Apabila kuman/zat asing yang masuk tidak dapat ditangkal oleh sistem kekebalan tubuh tidak spesifik, maka diperlukan sistem kekebalan dengan tingkat yang lebih tinggi atau sistem kekebalan spesifik . Ada 2 jenis kekebalan spesifik, yaitu (1) kekebalan selular (sel limfosit T) dan (2) kekebalan humoral (sel limfosit B yang memproduksi antibodi). Kekebalan ini hanya berperan pada kuman/zat asing yang sudah dikenal, artinya jenis kuman/zat asing tersebut sudah pernah atau lebih dari satu kali masuk ke dalam tubuh manusia.

Sistim kekebalan tubuh pada ASI

Air susu ibu sering disebut sebagai “darah putih” karena mengandung sel-sel yang penting dalam pemusnahan (fagosit) kuman dan merupakan perlindungan pertama pada saluran cerna bayi. Para ahli menemukan makrofag dan limfosit di dalam ASI. Sama seperti sistim imun pada umumnya, ASI juga memiliki sistim pertahanan (sistem imun) tidak spesifik dan spesifik.

Pertahanan tidak spesifik ASI

Di dalam ASI terdapat banyak sel, terutama pada minggu-minggu pertama menyusui. Kolostrum dan ASI dini mengandung 1-3 juta sel darah putih (leukosit) per ml. Pada ASI matur, yaitu ASI setelah 2-3 bulan menyusui, jumlah sel ini menurun menjadi 1000 sel per ml yang terdiri dari monosit/makrofag (59-63%), sel neutrofil (18-23%), dan sel limfosit (7-13%) ASI juga mengandung faktor pelindung (protektif) yang larut dalam ASI seperti enzim lisozim, laktoferin (sebagai pengikat zat besi), sitokin (zat yang dihasilkan oleh sel kekebalan untuk mempengaruhi fungsi sel lain), dan protein yang dapat mengikat vitamin B12, faktor bifidus, enzim-enzim, dan antioksidan.

Sel makrofag

Sel makrofag ASI merupakan sel fagosit (pemusnah bakteri) aktif sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada saluran cerna. Selain sifat pemusnah, sel makrofag juga memproduksi enzim lisozim, zat komplemen (komponen cairan tubuh yang berperan dalam perusakan bakteri), laktoferin, sitokin, serta enzim lainnya. Makrofag pada ASI dapat mencegah infeksi saluran cerna melalui enzim yang diproduksinya.

Sel neutrofil

Neutrofil yang terdapat di dalam ASI mengandung sIgA yang dianggap sebagai alat transpor IgA dari ibu ke bayi. Peran neutrofil ASI lebih ditujukan pada pertahanan jaringan payudara ibu agar tidak terjadi infeksi pada permulaan laktasi.

Lisozim

Lisozim dapat menghancurkan dinding sel bakteri yang terdapat pada selaput lendir saluran cerna. Kadar lisozim dalam ASI adalah 0,1 mg/ml yang bertahan sampai tahun kedua menyusui, bahkan sampai penyapihan. Dibanding dengan susu sapi, ASI mengandung 300 kali lebih banyak lisozim per satuan volume yang sama.

Komplemen

Komplemen adalah protein yang berfungsi sebagai penanda sehingga bakteri yang ditempel oleh komplemen dapat dengan mudah dikenal oleh sel pemusnah. Disamping itu, komplomen sendiri secara langsung dapat menghancurkan bakteri.

Sitokin

Sitokin meningkatkan jumlah antibodi IgA kelenjar ASI. Sitokin yang berperan dalam sistim imun di dalam ASI adalah IL-l (interleukin-1) yang berfungsi mengaktifkan sel limfosit T. Sel makrofag juga menghasilkan TNF-α dan interleukin 6 (IL-6) yang mengaktifkan sel limfosit B sehingga antibodi IgA meningkat.

Laktoferin

Laktoferin bersifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri). Efek ini dicapai dengan mengikat besi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sebagian besar bakteri patogen (misalnya Staphylococcus dan E. Coli). Kadar laktoferin dalam ASI adalah 1-6 mg/ml dan tertinggi pada kolostrum.

Peroksidase

Peroksidase adalah enzim yang dapat menghancurkan kuman patogen. Berbeda dengan susu sapi, ASI tidak mengandung laktoperoksidase yang dapat menyebabkan reaksi peradangan di dinding usus bayi, kalaupun ada kadarnya kecil.

Faktor protektif lain

ASI juga mengandung protein yang dapat mengikat vitamin B12 sehingga dapat mengontrol pertumbuhan mikroorganisme di dalam saluran cerna. Makin banyak vitamin B12 yang diikat oleh protein mengakibatkan makin sedikit vitamin B12 yang digunakan oleh bakteri patogen.. Air susu ibu juga mengandung glikoprotein (gabungan karbohidrat dan protein), glikolipid (karbohidrat dan lemak), dan oligosakarida yang berfungsi menyerupai bakteri pada permukaan mukosa saluran cerna bayi, sehingga dapat menghambat perlekatan bakteri patogen. pada mukosa saluran cerna. Gabungan makronutrien ini juga berfungsi mengikat racun kuman (toksin). Antioksidan dalam ASI, seperti tokoferol-α dan karotin-β merupakan faktor anti peradangan. Di dalam ASI juga terdapat faktor ketahanan terhadap infeksi stafilokokus (’faktor antistafilokok’) dan komponen yang menyerupai gangliosida yang dapat menghambat bakteri E. Coli.

Pertahanan spesifik ASI

Mekanisme pertahanan spesifik oleh ASI diperantarai oleh limfosit T dan antibodi.

Limfosit T

Sel limfosit T merupakan 80% dari sel limfosit yang terdapat dalam ASI. Sel limfosit T dapat menghancurkan kapsul bakteri E. Coli dan mentransfer kekebalan selular dari ibu ke bayi yang disusuinya.

Imunoglobulin (antibodi)

Imunoglobulin dihasilkan oleh Sel limfosit B. Sel limfosit B terutama memproduksi sekretori IgA (sIgA) yang berfungsi melindungi IgA dari enzim penghancur protein (tripsin, pepsin) di saluran cerna bayi dan keasaman lambung. Imunoglobulin M (IgM) akan ditransfer pada awal kehidupan bayi sebagai perlindungan terhadap E.coli dan polio, bila ibu sudah pernah terpajan sebelumnya. Imunoglobulin G IgG) dimiliki oleh bayi dari transfer melalui plasenta. Imunoglobulin D hanya sedikit sekali ditemukan dalam ASI, sedangkan IgE tidak ada. Kadar sIgA, IgG, dan IgM, tidak dipengarui oleh usia ibu, jumlah anak yang pernah dilahirkan, dan usia kehamilan.

Imunoglobulin di dalam ASI tidak diserap oleh bayi tetapi berperan memperkuat sistim imun lokal saluran cerna. Limfosit B pada saluran cerna ibu diaktifkan oleh bakteri pada saluran cernanya, selanjutnya limfosit aktif ini bermigrasi ke kelenjar payudara menjadi sel plasma dan menghasilkan antibodi. Selain itu, beberapa kajian juga memperlihatkan kandungan antibodi terhadap jamur dan parasit pada ASI.

Air susu ibu juga dilaporkan dapat meningkatkan jumlah sIgA pada saluran napas dan kelenjar ludah bayi usia 4 hari. Hal ini dibuktikan dengan lebih rendahnya kejadian penyakit radang telinga tengah, pneumonia, penyebaran bakteri ke bagian tubuh lainnya, meningitis (radang selaput otak), dan infeksi saluran kemih pada bayi yang mendapat ASI dibanding bayi yang mendapat susu formula. Fakta ini lebih nyata pada 6 bulan pertama dan dapat terlihat sampai tahun kedua. Demikian pula angka kematian bayi yang mendapat ASI lebih rendah dibanding bayi yang mendapat susu formula.

IgA Sekretori (sIgA)

Imunoglobulin A banyak ditemukan pada permukaan saluran cerna dan saluran napas. Dua molekul imunoglobulin A bergabung komponen sekretori membentuk IgA sekretori (sIgA). Fungsi utama sIgA adalah mencegah melekatnya kuman patogen pada dinding saluran cerna dan menghambat perkembangbiakan kuman di dalam saluran cerna.
IgA sekretori di dalam ASI dilaporkan memiliki aktivitas antibodi terhadap virus (polio, Rotavirus, echo, coxsackie, influenza, Haemophilus influenzae, virus respiratori sinsisial/RSV), bakteri (Streptococcus pneumoniae; E. coli, klebsiela, shigela, salmonela, campylobacter), dan enterotoksin yang dikeluarkan oleh Vibrio cholerae, E. coli serta Giardia lamblia. Begitu pula terhadap protein makanan seperti susu sapi dan kedelai (bergantung pada pajanan ibunya). Oleh karena itu, ASI dapat mengurangi angka kesakitan infeksi saluran cerna dan saluran pernapasan bagian atas.

Kolostrum

Kolostrum mengandung sIgA dengan kadar sampai 5000 mg/dL yang cukup untuk melapisi permukaan saluran cerna bayi terhadap berbagai bakteri patogen dan virus. Begitu pula dengan antibodi lainnya, paling banyak terdapat dalam kolostrum. Selain itu, terdapat lebih dari 50 proses pendukung perkembangan imunitas termasuk faktor pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Perbedaan usia ibu mempunyai pengaruh terhadap kadar antibodi yang terkandung dalam kolostrum. Ibu yang masih remaja, kolostrumnya memiliki kadar IgA dan IgM sekretorik lebih banyak dibanding ibu yang usianya lebih tua.

Adanya kadar antibodi yang masih tinggi terhadap virus polio dalam kolostrum perlu dipertimbangkan pada pemberian imunisasi polio per oral. Pada keadaan ini sebaiknya ASI tidak diberikan 2 jam sebelum dan sesudah pemberian vaksin polio per oral pertama, agar tidak terjadi netralisasi vaksin polio oleh sIgA kolostrum.

Hubungan ASI dengan kejadian alergi

Mukosa saluran cerna bayi menunjukkan kemampuan serap yang tinggi terhadap molekul besar seperti protein utuh (misalnya protein susu sapi). Pada bayi yang memiliki risiko tinggi alergi, maka masuknya molekul besar ini menjadi proses pengenalan pertama dari alergen (molekul penyebab reaksi alergi). Paparan molekul yang sama selanjutnya akan menyebabkan timbulnya gejala penyakit alergi seperti gejala saluran cerna, eksema dan asma.

Pada beberapa penelitian memperlihatkan pemberian ASI eksklusif selama 4-6 bulan berhubungan dengan rendahnya kejadian penyakit alergi. Penelitian yang dilakukan di Australia pada 2187 anak selama 6 tahun menyimpulkan bahwa risiko terjadinya asma berkurang pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Penelitian lain menunjukkan adanya antibodi terhadap protein susu sapi pada bayi yang mengalami diare akut.

Air susu ibu dan penularan infeksi

Beberapa penyakit virus ibu dapat ditularkan kepada bayi melalui ASI. Walaupun virus dapat ditemukan dalam ASI, tetapi tidak selalu virus ini ditularkan ke bayi. Risiko tinggi penularan melalui ASI adalah infeksi akut saat lahir, yaitu saat antibodi untuk menetralisir virus masih sedikit terbentuk. Beberapa macam virus yang dapat ditemukan dalam ASI, yaitu :

Cytomegalovirus (CMV)

Virus sitomegalo (CMV) dapat ditemukan dalam ASI dan ditularkan ke bayi. Dari data yang ada, CMV yang ada di dalam ASI tidak menimbulkan efek yang membahayakan bayi. Antibodi terhadap CMV dapat dipindahkan ke janin melalui plasenta.

Virus rubella

Virus rubella baik pada infeksi alamiah maupun pasca imunisasi pada ibu, dapat ditularkan ke bayi melalui ASI tetapi tidak menimbulkan efek yang membahayakan.

Virus herpes simpleks

Virus herpes simpleks dapat ditularkankan kepada bayi melalui ASI dan dapat menimbulkan penyakit, bahkan dapat mengenai seluruh tubuh. Hal ini terjadi terutama bila luka herpes pada permukaan payudara.

Virus hepatitis B

Antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) dapat ditemukan pada ASI ibu pengidap hepatitis B. Tetapi belum ada bukti kongkrit yang membuktikan bahwa virus hepatitis B tersebut dapat ditularkan ke bayi melalui ASI. Dilaporkan, lebih kurang 40% ASI dari ibu HBsAg positif juga menunjukkan HBsAg positif. Walaupun demikian, penelitian tersebut tidak memperlihatkan perbedaan bermakna dari frekuensi penularan infeksi virus hepatitis B pada bayi yang mendapat ASI dengan bayi yang tidak mendapat ASI. Penelitian menggunakan mikroskop elektron memperlihatkan hanya partikel HbsAg yang terkandung di dalam ASI ibu dengan HBsAg positif (tidak ada partikel Dane); hal ini menandakan bahwa ASI tidak menularkan penyakit hepatitis B.

Human immunodeficiency virus (HIV)

Virus HIV dapat ditemukan dalam cairan ASI. Penularan makin tinggi bila stadium infeksi ibu makin berat. Kemungkinan penularan sekitar 10-15% bergantung lamanya pemberian ASI. Oleh karena itu pada pencegahan penularan HIV, salah satunya adalah dengan tidak memberikan ASI.

Penyimpanan ASI dan kualitas kandungan sifat kekebalan

Penyimpanan ASI yang diperah memiliki risiko menurunnya kadar kandungan kekebalan. Penyimpanan dmemakai bahan dari gelas merupakan pilihan ideal karena sifat gelas yang inert akan membuat komponen imunoglobulin dan komponen lain tidak akan menempel pada dinding wadah penyimpan. ASI dapat disimpan tanpa perubahan di dalam lemari pendingin selama 72 jam. Pembekuan dapat mengurangi kemampuan aktivitas sel imun, sedangkan perebusan/pemanasan dapat menurunkan efek IgA dan IgA sekretorik.

Daftar bacaan.

1. Lawrence RA. Host-resistance factors and immunologic significance of human milk. Dalam: Lawrence RA, penyunting. Breast feeding. A guide for the medical profession; edisi ke-5. Philadelphia: Mosby, l989; ll8-47.
2. Pittard EB. Breast milk immunology .Am J Dis Child l979; l33:83-7.
3. Hanson LA, Brandtzaeg P. The mucosal defense system. Dalam: Stiehm ER, penyunting. Immunologic disorders in infants and children; ed.3. Philadelphia: Saunders, 1989;116-55.
4. Miranda R, Saravia NG, Ackerman R, Murphy N, Berman S, Mc Murray DN. Effect of maternal nutritional status on immunological substance in human colostrum and milk. Am J Clin Nutri l983; 37:632-40.
5. Siregar S, Matondang CS, Akib A, Derajat MSW, Wahjuono G. Zat antivirus polio dalam air susu ibu. Dalam: Suharyono, Suradi R, Firmansyah A, penyunting. Air susu ibu. Tinjauan dari beberapa aspek; edisi ke-2. Jakarta: FKUI, l992; 45-9.
6. Depkes RI. Hanya 3,7% Bayi Memperoleh ASI. http://map.depkes.go.id, 30 Aug 2006
7. WHO, UNICEF. Konseling Menyusui. Indonesia: Depkes & BK.PP-ASI, 2002; 1-9.
8. Baratawidjaja KG. Imunologi Dasar, edisi ke-4. Jakarta: FKUI, 2000; 3-21.
9. Lawrence RA. Breastfeeding: A guide for the medical profession, edisi ke-4. USA: Mosby-Year Book, 1994; 149-80.
10. Goldblum RM, Garofalo RP The Mucosal Defense System. Dalam: Stiehm ER, Ochs HD, Winkelstein JA, penyunting. Immunologic Disorder in Infants & Children, edisi ke-5. Philadelphia: Elsevier Inc., 2004; 205-44.
11. R. Ivan, B. Jonathan, M. David. Immunology; edisi ke-6. Spanyol: Mosby International Ltd, 2001; 75.
12. Stiehm ER, Keller MA. Breast milk transmission of viral disease. Adv Nutr Res. 2001;10:105-22
13. Michie CA, Gilmour J. Breast feeding and the risks of viral transmission. Arch Dis Child 2001;84:381-2.
14. Embree JA, Njenga S, Datta P, Nagelkerke NJD, Ndinya-Achola JO, Mohammed Z, dkk. Risk factors for postnatal mother-child transmission of HIV-1. AIDS 2000;14:2535-41.
15. Lawrence RA. Storage of human milk and the influence of procedures on immunological components of human milk. Acta Paediatrica 1999;88:14-8.
16. Stevens CR, Millar TM, Clinch JG, Kanczler JM, Bodamyali T, Blake DR. Antibacterial properties of xanthin oxidase in human milk. Lancet 2000; 356:829-30.

Penulis: Zakiudin Munasir dan Nia Kurniati

Sumber : Buku Bedah ASI IDAI