Banyak orang beranggapan sahur itu tidak penting, yang penting malam sudah makan banyak maka hal tersebut sudah mencukupi. Tetapi ada pula yang merasa penting untuk sahur, tetapi mereka berpedoman “apapun makanannya yang penting sahur”. Bagaimana seharusnya kita sahur, agar nanti ketika berpuasa akan terasa lebih nyaman? Simak pembahasan berikut.

1 Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhiri waktu makan sahur dengan waktu yang tak jauh dari saat terbit fajar. Telah diriwayatkan dari Anas dari Zaid bin Tsabit, bahwasanya dia pernah berkata:

قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

Kami bertanya kepada Anas, “Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan shalat?” Anas bin Malik menjawab, “Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat.”

Hikmah mengikuti Sunnah Nabi dengan mengakhirkan sahur memang banyak manfaatnya bagi tubuh. Diantara hikmahnya adalah:

  • Mengikuti sunnah Rosul
  • memulai puasa dengan cadangan energi yang cukup. Hal ini karena kita makan menjelang waktu dimulainya puasa.
  • Menjaga pola makan yang teratur. Namun hal ini berkaitan dengan berbukanya nanti. Artinya bahwa bila kita sahur di akhir waktu dan berbuka diawal waktu, maka pengosongan dan pengisian lambung dengan makanan mempunyai interval waktu yang relatif sama. Hal ini sangat bermanfaat agar kenaikan asam lambung tidak melonjak drastis, pengosongan lambung akan teratur, dll. Sehingga kesehatan organ pencernaan akan terjaga.
  • Bila setelah sahur tidak tidur lagi, maka sholat subuh akan terjaga dan tidak ketiduran

2 Hindari Tidur Setelah Makan Sahur

Kebanyakan orang sering tidur setelah makan sahur. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya, karena makan sahur saat masih tengah malam atau jauh dari terbit fajar. Selain tidak mengikuti Sunnah mengakhirkan sahur, shalat Subuh mungkin tak bisa terjaga dengan baik (tidak tepat waktu). Keadaan ini akan nembuat tubuh menjadi semakin lemas pada siang hari.

Setelah makan sahur, tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan yang dimakan. Apabila setelah sahur langsung tidur, maka hal ini akan memhambat/mengganggu proses penyerapan makanan. Akibatnya:

  • proses pencernaan lebih lama karena dalam posisi tidur penurunan makan ke saluran pencernaan bagian bawah akan lambat, hal ini menambah pengeluaran energi hanya untuk mencerna makanan. Akibatnya badan cepat capek.
  • Akan muncul gas yang banyak, karena makan yang sudah mulai membusuk tetapi masih di lambung (atau saluran pencernaan bagian atas). Akibatnya perut terasa tidak nyaman.
  1. Menu Makan Sahur

    Sebuah slogan, “apapun makanannya yang penting sahur” ada baiknya untuk kita tinggalkan. Lalu apa makanan yang cocok untuk makan sahur? Simak pembahasan berikut:

    a. makanlah makanan yang cepat diserab saluran pencernaan dan mengandung kadar gula cukup. Pilihan utamanya adalah buah, semacam jus atau lainnya.

    b. jangan makan makanan yang cepat diserab bersamaan dengan makanan yang lama diserab oleh pencernaan. Sebagai contoh jangan makan daging yang banyak dengan porsi nasi yang banyak pula. Karena daging cukup lama untuk diserab, sehingga akan mengganggu penyerapan nasi. Apabila nasi lama tidak diserab sedangkan dia telah mengalami penguraian (pembusukan) maka akibatnya akan muncul gas yang cukup banyak, hal ini mengakibatkan perut terasa tidak nyaman. Solusinya adalah, bila anda makan daging yang banyak, nasinya sedikit saja. Atau makan yang cepat diserab dulu, baru yang agak lama, kemudian yang paling lama.

    c. memperbanyak minum air saat sahur dan berbuka. Air yang diminum sebaiknya air putih biasa, bukan teh, kopi, atau soda. Sebab, minuman-minuman tersebut mengandung kafein yang bersifat diuresis atau menambah frekuensi kencing. Makin banyak buang air kecil, makin banyak pula cairan tubuh yang terbuang.

    d. sebagian penulis menganjurkan untuk menghindari makanan dan minuman yang banyak mengandung gula saat sahur.

    Mereka mengatakan:Makanan dan minuman yang terlalu banyak mengandung gula akan memacu tubuh memproduksi insulin untuk segera menetralkan kadar gula dalam darah. Akibatnya rasa lapar akan cepat timbul dan badanpun menjadi cepat lemas dan lesu. Perbanyak makanan yang mengandung protein tinggi karena protein akan diolah lebih lambat dibanding jenis makanan lain.

    Namun menurut saya hal ini tidak mutlak benar, ditinjau dari beberapa hal berikut:

    – salah satu teori kenyang adalah bila kadar gula di dalam darah cukup banyak. Memang benar bahwa kadar gula yang tinggi di dalam darah akan memicu insulin, yang mana insulin ini akan membawa gula ke jaringan. Dijaringan inilah gula tersebut akan digunakan sebagai energi. Apabila gula dalam bentuk monosakarida tidak mencukupi didalam jaringan maka tubuh akan mengambil cadangan gula (dalam bentuk glikogen).

    – energi yang dihasilkan dari proses pembakaran makanan adalah berasal dari gula dalam bentuk monosakarida. Sehingga apabila kita makan makanan yang mengandung gula (baik polisakarida, disakarida maupun monosakarida) akan lebih cepat terbentuk sebagai energi dibandingkan kita mengkonsumsi lemak maupun yang lainnya. Karena lemak maupun protein, akan diubah menjadi energi jika sudah diubah terlebih dahulu menjadi monosakarida (gula).

    – kelebihan gula di dalam jaringan akan di simpan dalam bentuk glikogen. Apabila tubuh kekurangan gula, maka glikogen ini akan dipecah kembali menjadi monosakarida.

    Jadi kesimpulannya makan sahur dengan makanan dengan kadar gula tinggi tidak mutlak salah, bahkan mungkin juga bermanfaat.

    Jadi menu yang cocok untuk makan sahur adalah awali dengan makan buah atau minum jus buah. Setelah kira-kira 0,5 – 1 jam baru makan nasi atau daging dgn syarat jangan makan daging dalam porsi banyak bersama dengan nasi yang banyak pula.

    Bahkan sebetulnya makan sahur dengan jus buah dalam jumlah cukup banyak, sudah mencukupi kebutuhan energi dalam sehari dengan catatan bukan untuk aktifitas berat.

Dekian semoga sahur anda menjadi berkah, dan mampu menjalankan ibadah puasa dengan penuh kekhusyu’an. Aamiin.

Walloohu a’lam