Sesuatu yang disyari’atkan pasti membawa manfaat, maka puasa pada dasarnya akan menyehatkan. Lalu siapakah yang boleh atau bahkan wajib untuk berpuasa:
Dari tinjauan syari’at, yang wajib puasa adalah:
Orang yang sudah mencapai usia baligh (sudah dewasa).
Orang yang berakal atau tidak hilang ingatan
Orang yang mukim (atau tidak sedang bepergian)
Orang yang sehat (atau tidak sedang dalam kondisi sakit yang perlu perawatan untuk memulihkan kesehatannya).
Orang yang mampu untuk berpuasa (atau tidak kepayahan bila melakukan puasa seperti orang yang sudah sangat tua, ibu hamil atau menyusui). Walaupun ada perbedaan pendapat diantara ulama di dalam masalah ini. Walloohua’lam.

Dari tinjauan medis, yang baik untuk melaksanakan puasa adalah
Orang yang sehat
penderita Jantung Koroner
Penderita Diabetes
Penderita Gangguan lambung
Orang yang perlu diet
Orang yang sakit jiwa
Selanjutnya akan kita bahas satu persatu dalam tinjauan medis:

Orang yang sehat
Orang yang sehat sangat perlu untuk puasa, karena dengan puasa maka kerja organ-organ tubuh akan berkurang atau dalam bahasa lain organ tubuh kita dapat istirahat beberapa saat. Berikut akan kami paparkan manfaat pusa bagi kesehatan:
Tanpa berpuasa seseorang akan menderita penyakit
Para ilmuwan hari ini menganggap puasa sebagai fenomena yang vital dan fitri, dimana kehidupan yang sempurna dan kesehatan yang baik tidak bisa diperoleh tanpanya. Apabila seseorang atau bahkan seekor binatang tidak berpuasa, maka ia akan terjangkit berbagai macam penyakit. McFadon, seorang ahli kesehatan Amerika, mengatakan, “Setiap orang perlu puasa, karena kalau tidak maka ia akan sakit. Karena racun makanan berkumpul dalam tubuh dan membuatnya seperti orang sakit, memberatkan tubuhnya, dan mengurangi vitalitasnya. Apabila ia berpuasa, maka berat badannya menurun, dan racun-racun ini terurai dari tubuhnya dan keluar, sehingga tubuhnya menjadi bersih secara sempurna, lalu bobot tubuhnya akan kembali naik, dan sel-selnya kembali baru dalam waktu tidak lebih dari 20 hari setelah berhenti puasa. Pada saat itu ia merasakan vitalitas dan kekuatan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.”
Puasa untuk detoksifikasi
Di masa kini, dunia penyembuhan Barat telah menggunakan terapi puasa sebagai alternatif penyembuhan. Puasa diyakini sebagai mata rantai yang hilang dari pola makan orang Barat selama ini.
Puasa sering disalahkaprahkan sebagai upaya manusia menahan lapar pada waktu tertentu. Puasa ditinjau dari aspek kesehatan adalah sebuah upaya detoksifikasi(proses pengeluaran zat-zat yang memiliki sifat toksin atau racun dari dalam tubuh). Dengan demikian puasa mendorong manusia  untuk menjadi lebih sehat. Bukan hanya fisik saja tapi juga batin.
Mengurangi risiko terkena penyakit diabetes tipe-2
pada saat berpuasa, dengan sendirinya konsumsi kalori secara fisiologis akan berkurang. Hal ini akan mengurangi sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Lebih jauh, hal ini akan meningkatkan sensitivitas hormon insulin dalam menormalkan kadar gula darah. Pengontrolan gula darah yang baik akan mencegah penyakit diabetes tipe-2.
Meningkatkan daya tahan tubuh
Manfaat puasa yang juga dapat dibuktikan secara alamiah adalah peremajaan kembali dan perpanjangan harapan hidup. Metabolisme yang lebih rendah, produksi protein yang lebih efisien, meningkatnya sistem kekebalan, dan bertambahnya produksi hormon berkontribusi terhadap manfaat puasa. Hormon antipenuaan juga dihasilkan dengan lebih efisien selama berpuasa.
Merilekskan tubuh dan memperbaiki syarafnya.
Menyerap zat-zat yang mengendap usus. Pengendapan dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan perubahan endapan itu menjadi kotoran yang beracun.
Memperbaiki fungsi pencernaan dan penyerapan.
Mengembalikan vitalitas organ pembuangan, dan memperbaiki fungsinya untuk membersihkan tubuh, yang mengakibatkan terkontrolnya stabilitas dalam darah dan berbagai cairan dalam tubuh.
Mengurai zat-zat yang berlebihan dan endapan-endapan di dalam jaringan yang sakit.
Mengembalikan keremajaan dan vitalitas sel-sel dan berbagai jaringan dalam tubuh.
Menguatkan indera dan meningkatkan IQ.
Memperbagus dan membersihkan Kulit. Alexis Carrel, pemenang hadiah Nobel di bidang kedokteran, dalam bukunya Man the Unknown mengatakan, “Banyaknya porsi makanan dapat melemahkan suatu fungsi organ, dan itu merupakan faktor yang besar bagi berdiamnya jenis-jenis kuman dalam tubuh. Fungsi tersebut adalah fungsi adaptasi terhadap porsi makanan yang sedikit…Gula pada jantung bergerak, dan bergerak pula lemak yang tersimpan dalam kulit. Semua organ tubuh mengeluarkan zat khususnya untuk mempertahankan keseimbangan internal dan kesehatan jantung. Puasa benar-benar membersihkan dan pengganti jaringan tubuh kita.
Dll

Penderita Jantung Koroner
Penelitian menunjukkan, puasa sangat baik dilakukan oleh orang yang kadar kolesterol di dalam darahnya tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi secara jangka panjang bisa mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Bila hal ini terjadi di otak, maka terjadilah stroke, dan bila terjadi di daerah jantung maka timbullah penyakit jantung.
Dari hasil penelitian pula diketahui, puasa bisa meningkatkan kolesterol ‘baik’ (HDL) sebanyak 25 titik, dan menurunkan lemak trigliserol sekira 20 titik. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk kolesterol ‘jahat’ (LDL).
Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Sebagian berpendapat jika penyakit ini mempunyai penyelesaian yang sebenarnya mudah, yakni dengan menjaga pola makan sehat dan teratur dalam berolahraga.
 Namun, penyakit jantung korener tidak bisa dilihat sesederhana itu.
Ada faktor resiko dari penyakit jantung koroner yang tidak bisa diubah, seperti jenis kelamin, umur dan faktor keturunan. Sementara yang bisa dikontrol atau diubah yaitu pola kebiasaan sehari-hari yaitu pola makan, kebiasaan bergerak, merokok, kondisi hipertensi, status diabetes dan kelebihan berat badan.
Ada juga faktor pencetus lainnya yaitu stress dan pengonsumsian alkohol. jika makin banyak faktor resiko yang ada, maka makin besar pula resiko terjadinya penyakit jantung koroner.
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa kesehatan yang baik bukan sekedar makanan yang baik dan olahraga, tapi lebih jauh lagi adalah bagaimana menyikapi pandangan hidup dan perilaku mental seseorang terhadap dirinya sendiri.
Dengan bulan puasa maka, segala faktor pencetus, sedikit banyaknya bisa dihindari. Mulai dari pola makan yang “semau gue” menjadi lebih teratur, intensitas merokok jauh lebih berkurang, pikiran jadi lebih tenang dan terarah, sehingga stress pun jadi lebih mudah dihindari.
Selain itu, dengan berpuasa maka dapat menjaga keseimbangan kadar kolesterol, tekanan darah, gula darah dan beberapa faktor pemicu timbulnya atau semakin buruknya penyakit jantung koroner.

Diabetes

Penyakit diabetes yang juga dikenal sebagai pencetus penyakit jantung koroner, adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia atau peningkatan kadar gula darah, yang terus menerus dan bervariasi, terutama setelah makan.  
Pembentukan diabetes yang utama adalah karena kurangnya produksi insulin, atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin. Dimana insulin yang menjadi “pintu” untuk masuknya glukosa ke dalam pankreas terkunci, sehingga mengakibatkan zat gula tertimbun di dalam darah.
Bagi para penderita diabetes, pemahaman dan perhatian sangat penting karena tingkat glukosa darah sering berubah-ubah. Karena dengan keberhasilan menjaga gula darah dalam batas yang normal dapat mencegah terjadinya komplikasi diabetes.
Faktor lain yang dapat mengurangi komplikasi diantaranya dengan berhenti merokok, mengoptimalkan kadar kolesterol, menjaga berat badan supaya tetap stabil, mengontrol tekanan darah tinggi dan melakukan olahraga secara teratur.
Hal-hal itu akan menjadi lebih mudah, saat bulan puasa tiba, dimana seorang penderita diabetes yang menjalankan puasa dapat mengontrol dirinya untuk menghindari pengonsumsian makanan sembarangan dan juga menghentikan kebiasaaan merokok, atau paling tidak dapat meminimalisir kemungkinan bersinggungan langsung dengan asap rokok.
Kendati penderita diabetes bisa dengan aman dan nyaman melaksanakan puasa, namun beberapa bulan sebelumnya (minimal 3 bulan sebelum puasa) penderita diabetes harus mengonsultasikan kepada dokter, agar sang dokter pun bisa memberikan arahan yang baik dan juga dapat memodifikasi obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh pasien dengan diabetes selama menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, melatih diri untuk berpuasa dua minggu sebelum pelaksanaan puasa juga sangat dianjurkan. Gunanya untuk menyesuaikan diri sebelum masuk ibadah puasa yang sesungguhnya, mulai dari beradaptasi dengan asupan makanan, obat-obatan dan reaksi tubuh saat puasa berlangsung.
Dengan begitu tubuh akan terlatih menghadapi puasa, jika jauh-jauh hari telah dikondisikan untuk menghadapi aktivitas puasa.
Tips bagi penderita diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasanya.
Pengonsumsian obat-obatan yang harus diminum bagi para penderita diabetes bisa dibalik, yakni obat yang biasanya diminum di pagi hari, dialihkan untuk diminum pada saat berbuka. Sedangkan untuk obat yang diminum di malam hari, dialihkan saat sahur.
saat berbuka orang dengan diabetes harus benar-benar memperhatikan asupan makanan dan minumannya.
Saat berbuka puasa pastikan penderita dan keluarga yang mendampingi memperhatikan makanan dan minuman berbuka. Sebagai menu pembuka makan buah korma dalam jumlah ganjil, namun jangan pula terlalu banyak, karena kadar gula kurma cukup tinggi. Setelah itu jangan langsung barengi dengan makanan berat. Akan lebih baik makanan berat disantap setelah sholat maghrib atau tarawih untuk memberikan kesempatan pada tubuh mengolah makanan pembuka yang sudah dimakan.
Yang wajib diwaspadai bagi penderita diabetes adalah saat di penderita mengalami hipoglikemi. suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara drastis menurun dan hal itu dibarengi dengan gejala fisik, diantranya gemetar, keringat dingin dan tubuh lemas. dimana jika hal itu terjadi maka harus sesegera mungkin diambil tindakan untuk menambah kadar glukosa. Jika terdesak bisa dengan memakan permen, yang penting makan yang manis-manis, Dengan kata lain puasa harus dibatalkan mengingat kondisi yang memang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan puasa hingga akhir berbuka nanti. karena kondisi tersebut jika terus dipaksakan hingga saatnya berbuka maka dapat berakibat fatal bagi si penderita.

Gangguan lambung
Bagi penderita gangguan lambung, momen ibadah puasa bisa dimanfaatkan untuk menjaga pola makan menjadi lebih teratur lagi dan menghindari menu-menu makanan yang tidak sehat dan juga berlebihan.
 
Dengan begitu, saluran cerna dapat terjaga dari asupan makanan yang dapat membahayakan kondisi lambung, dan bisa dijadikan pula sebagai salah satu metode detoksifikasi yang sangat bermanfaat untuk tubuh.

Kesehatan Jiwa
Dari kajian ilmiah yang selama ini dilakukan, didapat sebuah fakta menarik untuk dikaji. Puasa ternyata dapat memberikan kesehatan jiwa. Hal ini ditulis Alan Cott dalam bukunya Fasting as a Way of Life dan Fasting the Ultimate Diet.
Buku itu menyebutkan, gangguan jiwa yang parah dapat direduksi dengan berpuasa. Gangguan mental lain seperti susah tidur, rendah diri, dan cemas berlebihan dapat dikurangi dengan terapi puasa. Hal ini dibuktikannya melalui sebuah penelitian di Rumah Sakit Grace Square, New York.
Penelitian lain dilakukan Dr Nicolayev, guru besar di The Moscow Psychiatric Institute. Nicolayev membandingkan dua kelompok penderita gangguan kejiwaan dengan satu kelompok yang mendapat terapi medis, sedangkan kelompok yang lain mendapat terapi puasa yang dilakukan masing-masing selama 30 hari. Dari eksperimen itu disimpulkan bahwa pasien yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi medis dapat disembuhkan dengan terapi puasa. Selain itu, orang-orang tersebut juga tidak mengalami kekambuhan selama enam tahun kemudian.

Waktu yang tepat untuk berpuasa
Waktu disini mengandung 2 macam hal, pertama berapa lama puasa yang baik itu, baik dalam hitungan hari maupun hitungan jam dalam seharinya, yang kedua kapan waktu yang tepat untuk berpuasa, apakah siang hari atau malam hari.
Lamanya puasa yang tepat
Berapa lama berpuasa?
Alam telah mengatur sistem tubuh manusia dengan kemampuan berpuasa. Bahkan secara medis kilinik-klinik puasa terkemuka di Eropa sudah membuktikan bahwa manusia bisa bertahan sampai 40 hari hanya dengan air putih saja dan sampai 100 hari hanya dengan jus buah-buahan dan sayuran tanpa bahaya.
Berdasarkan pengalaman kilinik-klinik tersebut puasa selama 7 sampai 10 hari ternyata aman bagi siapa saja. Puasa sepanjang waktu itu ternyata aman untuk pembersihan bagian dalam , regenerasi sel, dan peremajaan tubuh, asalkan dilakukan secara teratur dan berkala. Tanpa hal ini, puasa 40 hari pun tidak ada manfaatnya bagi diri kita.
Proses puasa itu sendiri sebenarnya baru dimulai setelah hari ke 2 atau ke 3. puasa. Pada saat itu tubuh mulai mencerna sel-sel atau jaringan yang berlebihan, rusak, berpenyakit, usang, atau sudah mati.
Meskipun sudah menjalankan puasa secara agama, tidak ada salahnya menambahnya dengan puasa atau detoksifikasi secara berkala. Semakin sering berpuasa semakin baik untuk kesehatan., terutama saat tubuh dalam kondisi asidosis(kondisi dimana keasaman tubuh sudah terlalu tinggi) sehingga rentan terhadap penyakit.
Allah berfirman, “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (al-Baqarah: 185)
Prof. Nicko Lev dalam bukunya Hungry for Healthy mengatakan, “Setiap orang harus berpuasa dengan berpantang makan selama empat minggu setiap tahun, agar ia memperoleh kesehatan yang sempurna sepanjang hidupnya.”
Puasa adalah sarana satu-satunya yang efektif untuk detoksinasi racun yang menumpuk di dalam tubuh. Puasa membersihkan saluran pencernaan secara sempurna dari bakteri-bakteri selaam satu minggu puasa. Proses detoksinasi untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dan racun yang menumpuk pada jaringan tubuh melalui air liur, getah lambung, getah kuning, dan getah pankreas, usus, mucus, air seni, dan keringat. Kadar getah dan tingkat keasamannya jauh berkurang dengan berpuasa. Dr. Muhammad Said al-Buthi mengatakan, “Puasa dapat mencegah penumpukan zat-zat beracun yang berbahaya seperti asam pada air seni, serta fosfat amoniak dan magnesia pada darah, serta dampak-dampanya, yaitu penumpukan racun pada sedi dan kandung kemih, dan mencegah penyakit rematik.
Berbagai penelitian medis membuktikan bahwa puasa sehari itu dapat menghilangkan ampas dan racun yang mengendap selama sepuluh hari. Sehingga dalam setahun perlu puasa selama 36 hari. Dari sini kita memahami hikmah perintah Nabi صلى الله عليه وسلم untuk berpuasa selama enam hari bulan Syawwal, agar proses detoksinasi itu sempurna. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa bulan Ramadhan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari bulan puasa, maka itu seperti puasa setahun.”
Mengenai perintah Nabi saw untuk puasa tiga hari setiap bulan (Ayyuamul Bidh), pengetahuan modern pada tahun-tahun terakhir menemukan bahwa bulan pada hari ke-13, 14, dan 15 itu mengakibatkan peningkatan sensitifitas syaraf dan ketegangan psikologis hingga tingkat yang dapat membuat seseorang gila.

Waktu yang tepat untuk puasa
Waktu puasa syar’i adalah dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari, dengan tidak berlebihan saat berbuka puasa. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa jarak waktu yang tepat untuk puasa adalah antara 12 hingga 18 jam. Sesudah itu, simpanan gula dalam tubuh mulai terurai. Dreanik dkk. pada tahun 1964 mencatat sejumlah penyakit komplikasi kritis akibat berpuasa lebih dari 31 hari (wishal). Di sini tampak jelas mukjizat Nabawi dalam larangan puasa wishal atau bersambung.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Janganlah kalian puasa wishal.” Para sahabat bertanya, “Tetapi engkau berpuasa wishal, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian tidak sepertiku. Sesungguhnya Tuhanku memberiku makan dan minum saat aku tidur malam.”
Adapun mengenai waktu puasa yang baik siang hari adalah karena pada waktu itu rata-rata orang beraktifitas sehingga terjadi pembakaran. Juga karena bila malam hari rata-rata orang sudah tidur, jadi manfaat puasa sebagaimana dimaksud tidak akan tercapai.
Walloohua’lam

Menu Puasa
Menu ini terkait dengan orang yang puasa, apakah ia dalam kondisi sehat, atau dalam kondisi sakit tertentu yang masih boleh atau bahakan dianjurkan untuk berpuasa.
Untuk orang sehat sebagaimana telah kami jelaskan dalam pembahasan masalah menu buka dan sahur. Cuma disini akan kami tambahkan beberpa hal yang terlewat:
Berbukalah dengan minuman hangat. Minuman dingin akan membuat rasa haus terus-menerus, perut kembung, dan menyebabkan lapar di tengah malam.
Menu sahur sebaiknya tak terlalu berbumbu tajam atau pedas karena akan membuat cepat lapar.

Untuk penderita penyakit tertentu, insyaAlloh akan kita bahas secara lebih detail dalam bab khusus.

Iklan